href='http://www.blogger.com/favicon-image.g?blogID=5195730972603891725' rel='icon' type='image/x-icon'/>

Selamat Datang/Wilujeng Sumping

Selamat datang di blog ini semoga mampu memberi manfaat bagi kita semua

Memory in al-fatah

Album Foto Sdit Al Fatah Slideshow: Nana’s trip from Bekasi, Java, Indonesia to Jakarta was created by TripAdvisor. See another Jakarta slideshow. Take your travel photos and make a slideshow for free.

Sabtu, 12 Desember 2015

MENJAWAB SOAL SEDERHANA

Hidup di alam fana ini diisi dengan serangkaian 
ujian demi ujian, apabila hendak naik tingkat (kelas) tentu harus melewati terlebih dahulu namanya ujian begitu pula dengan kehidupan. Apabila memiliki keinginan untuk disayang sama Alloh swt. maka prilaku kita hendaknya seiring dengan kehendak sang Maha Kuasa.
Marilah kita sama-sama menjawab atau mengisi soal sederhana di bawah ini!
Isilah titik-titik di bawah ini dan mohon dijawab dengan jujur di dalam hati kita masing-masing ...
1. Allah menciptakan tertawa dan .....
2. Allah itu mematikan dan .....
3. Allah menciptakan laki-laki dan .....
4. Allah memberikan kekayaan dan .....
Mayoritas kita tentu akan dengan mudah menjawab:
1. Menangis ...
2. Menghidupkan ...
3. Perempuan ...
Tapi bagaimana dengan no.4 ...? Apakah Kemiskinan ...?
Untuk mengetahui jawabannya, mari kita lihat rangkaian firman Allah dalam surat An-Najm ayat 43-45, dan 48, sebagai berikut:
ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﺿْﺤَﻚَ ﻭَﺃَﺑْﻜَﻰ
"dan Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis." (QS. An-Najm : 43).
ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﻣَﺎﺕَ ﻭَﺃَﺣْﻴَﺎ
"dan Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan." (QS. An-Najm : 44).
ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺰَّﻭْﺟَﻴْﻦِ ﺍﻟﺬَّﻛَﺮَ ﻭَﺍﻟْﺄُﻧﺜَﻰ
"dan Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan. " (QS. An-Najm : 45).
ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﻏْﻨَﻰ ﻭَﺃَﻗْﻨَﻰ
"dan Dia-lah yang memberikan kekayaan dan kecukupan." (QS. An-Najm : 48).
Ternyata jawaban kita benar hanya pada no. 1-3 ... sedang jawaban untuk no. 4 keliru.
Jawaban Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an bukan Kemiskinan, tapi KECUKUPAN.
Subhaanallah.....
Sesungguhnya Allah Ta'ala hanya memberi Kekayaan dan Kecukupan kepada hamba-Nya.
Dan ternyata yang "menciptakan" KEMISKINAN adalah diri kita sendiri.
Hal ini bisa karena ketidak adilan ekonomi, kemalasan, bisa juga
karena kemiskinan itu kita bentuk di dalam pola pikir kita sendiri.
Itulah hakikatnya, mengapa orang-orang yang senantiasa bersyukur; walaupun hidup pas-pasan ia akan tetap tersenyum dan merasa cukup, bukan merasa miskin.
Jadi, marilah kita bangun rasa keberlimpahan dan kecukupan didalam hati dan pikiran kita, berhenti mengeluh, berhenti mengatakan rejeki kecil, agar kita menjadi hamba-Nya yg selalu Bersyukur.
Semangat menjemput rejeki yang halal, biar semakin berkah...
Semoga bermanfaat
"Nyooo...kite Sholat DHUHA..biar Rizqi slalu berlimpaH...Hidup tmbh BerkaH...to bekal kite IbadaH......"

Senin, 12 Oktober 2015

TUGAS DAN TANGUNG JAWAB PENDIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Al Quran telah mengisyaratkan peran para Nabi dan pengikutnya dalam pendidikan dan fungsi fundamental mereka dalam pengkajian ilmu-ilmu Ilahi serta aplikasinya. Isyarat tersebut salah satunya terdapat dalam firman-Nya berikut ini :“ Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan memba cakan kepeda mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al Kitab, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.  (Al Baqarah : 129)  Selanjutnya dalam ayat lainAllah SWT mengisyaratkan lagi bahwa tugas terpenting yang diemban Rasulullah SAW adalah mengajarkan al Kitab, hikmah, dan penyucian diri. Keutamaan profesi guru sangatlah mulia sehingga Allah menjadikannya tugas yang diemban Rasullalah sebagaimana firman-Nya berikut ini :“Sungguh Allah telah member karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Alloh mengutus orang diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepeda mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata” ( al Imran :164)
Menurut Imam al-Ghozali, tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawakan hati manusia untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. Hal tersebut karena tujuan pendidikan Islam yang utama adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jika pendidik belum mampu membiasakan diri dalam peribadatan pada peserta didiknya, maka ia mengalami kegagalan, sekalipun peserta didiknya memiliki prestasi akademis yang luar biasa.
Muhaimin secara utuh mengemukakan tugas-tugas pendidik dalam pendidikan Islam. Dalam rumusannya, menggunakan istilah ustadz, mu’allim, murabbi’, mursyid, mudarris,dan muaddib. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut:1. UstadzOrang yang berkomitmen dengan profesionalitas yang melekat pada dirinya sikap dedikatif, komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja serta sikap continous improvement.2. Mua’llimOrang yang menguasai ilmu dan mampu mengembangkannya serta menjelaskan fungsinya dalam kehidupan, menjelaskan dimensi teoritis dan prakteknya sekaligus melakukan transfer ilmu pengetahuan, internalisasi serta implementasi.3. Murabbi’Orang yang mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi serta mampu mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat, dan alam sekitarnya.4. MursyidOrang yang mampu menjadi model atau sentral identifikasi diri atau menjadi pusat anutan, teladan dan konsultan bagi peserta didiknya.5. MudarrisOrang yang memiliki kepekaan intelektual dan informasi serta memperbarui pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan, dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantas kebodohan mereka, serta melatih ketrampilan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.6. MuaddibOrang yang mampu menyiapkan peserta didik untuk bertanggung jawab dalam membangun peradaban yang berkualitas di masa depan.
            Tarbiyah shahihah merupakan sarana untuk membentuk generasi yang beriman kepada ajaran- ajaran Islam yang shahih, berusaha mewarnai bangsanya dengan warna Islam dalam berbagai penampilan hidupnya. Dengan demikian idealnya pendidikan mempunyai tugas untuk mengokohkan makna beragama secara praktis, dan bukan hanya sekadar keyakinan dalam dada pemeluknya apa lagi sekadar teori norma-norma belaka.            Selanjutnya bahwa stiap pendidik harus menekankan aspek ruhiyah (moralitas). Ruhiyah adalah fungsi terpenting dan merupakan salah satu pondasi pendidikan. Tarbiyah khulukiyah esensinya adalah melatih anak-anak  kita membiasakan diri untuk berprileku mulia. Dengan harapan mereka merasa amat nyaman begitu pula membuat orang lain pun merasa nyaman.
            Fajar Rahmat Shaleh menampilkan sosok guru Idaman dengan Guru Al Muddatsir, yang  menjadikan al Quran surah al Muddatsir sebagai kode etik profesinya, yaitu sebagai berikut :
1.      Qum fa andzir (bangunlah lalu beri peringatan)
Seorang guru haruslah memiliki hamasah (semangat) untuk selalu memberikan kesan positif, agar murid-murid mudah mengingat nasihat dan meneladaninya.
2.      Wa Rabbaka fa kabbir ( dan Tuhanmu agungkanlah)
Setiap guru haruslah berorientasi ajaran dan seluruh proses pendidikannya, bertujuan agar kita dan anak-anak didik mengagungkan Allah SWT.
3.      Wa tsiyaabaka fathahhir (dan pakaianmu bersihkanlah)
Setiap guru hendaknya memiliki penampilan lahir yang mengagumkan.
4.      Warrujza fahjur (dan berbuat dosa tinggalkanlah)
Setiap guru hendaknya memiliki moralitas yang tinggi dengan tidak melakukan dosa-dosa yang merusak integritas dan kepercayaan murid.
5.      Walaa tamnun tastaktsir (dan janganlah kamu member dengan maksud memperoleh balasan yang banyak)
Sorang guru hendaknya tidak berorientasi kepada materi, landasannya tulus ikhlas.
 Oleh : Nana Hidayat

Daftar Pustaka :
1.      Pendidikan Islam di Rumah dan Masyarakat, Abdurrahman An Nahlawi.
2.      Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam, Muhammad Athiyah Al Abrasyi.
3.      Melepas Belenggu Pendidikan, Fajar Rahmat Saleh.
4.      Tugas dan tangung jawab sebagai Guru Sungguh Mulia di Sisi Allah., Abu Basyer.


Sabtu, 03 Oktober 2015

"Smart Parents Smart Children"

Materi yang sangat bagus untuk para orang tua yang diberikan oleh Bunda Kurnia Widhiastuti dari Sygma Parenting Community.
Tidak terasa, sebenarnya waktu kita untuk mendidik anak itu sangatlah singkat.
Saat anak sekolah ditempat jauh, saat anak waktunya kuliah di kota lain, saat ia menikah...
Sangat singkat Bunda!
Gunakanlah waktu sebaik-sebaiknya untuk menanamkan hal baik ke anak, karena tidak terasa, itu akan segera berlalu.
Waktu berharga pengasuhan anak:
7 tahun pertama (0-7 tahun):
Perlakukan anakmu sebagai raja.
Zona merah - zona larangan
jangan marah-marah, jangan banyak larangan, jangan rusak jaringan otak anak.
Pahamilah bahwa posisi anak yang masih kecil, saat itu yang berkembang otak kanannya. 

7 tahun kedua (7-14 tahun):
Perlakukan anakmu sebagai atau tawanan perang.
Zona kuning - zona hati-hati dan waspada.
Latih anak-anak mandiri untuk mengurus dirinya sendiri, mencuci piring, pakaian, setrika, dll.
Banyak pelajaran berharga dalam kemandirian yang bermanfaat bagi masa depannya.

7 tahun ketiga (14-21 tahun):
Perlakukan anak seperti sahabat.
Zona hijau - sudah boleh jalan.
Anak sudah bisa dilepas untuk mandiri. Mereka sudah bisa dilepas sebagai duta keluarga.

7 tahun keempat (21-28 tahun):
Perlakukan sebagai pemimpin. 
Zona biru - siap terbang.
Siapkan anak untuk menikah.

Pada masa anak-anak yang berkembang otak kanannya. Otak kiri berkembang saat usianya menjelang 7 tahun. Anak perempuan keseimbangan otak kanan dan kirinya lebih cepat. Sedangkan anak laki lebih lambat. Keseimbangan otak kanan dan kiri pada anak laki-laki baru tercapai sempurna di usia 18 tahun, sedangkan anak perempuan sudah cukup seimbang otak kanan dan kirinya di usia 7 tahun.
Ampun dah lama bener ya?
No wonder our hubby suka rada ajib. He...he....

Ternyata ada rahasia Allah mengapa diatur seperti itu.

Laki-laki dipersiapkan untuk jadi pemimpin yang tegas dalam mengambil keputusan. Untuk itu, jiwa kreatifitas dan explorasinya harus berkembang pesat. Sehingga pengalaman itu membuatnya dapat mengambil keputusan dengan tenang dan tepat.

Sementara perempuan dipersiapkan untuk jadi pengatur dan manajer yang harus penuh keteraturan dan ketelitian.

Untuk memberi intruksi pada anak, gunakan suara Ayah. Karena suaranya bas, empuk dan enak di dengar.

Kalau suara Ibu memerintah, cenderung melengking seperti biola salah gesek. Itu bisa merusak sel syaraf otak anak. 250rb sel otak anak rusak ketika dimarahin.

Solusinya, Ibu bisa menggunakan bahasa tubuh atau isyarat jika ingin memberikan instruksi.
Suara perempuan itu enak didengar jika digunakan dengan nada sedang. Cocok untuk mendongeng atau bercerita.

Cara berkomunikasi yang efektif dengan anak:
1. Merangkul pundak anak sambil ditepuk lembut.
2. Sambil mengelus tulang punggung anak hingga ke tulang ekor.
3. Sambil mengusap kepala.
Dengan sentuhan ada gelombang yang akan sampai ke otak anak sehingga sel-sel cintanya tumbuh subur.

Jumat, 17 April 2015

BERAPA HARGA ANAK?

Berapa harga anakmu? Bingung pasti …
Karena nilai anak tak bias diukur dengan materi tak ternilai …!
Tapi benarkah anak itu tak ternilai?
Kadang-kadang atau mungkin sering kali anak bernilai sangat rendah di mata orang tua…
Kadang dia lebih rendah dari sebuah guci Kristal. Ketika guci itu pecah tanpa sengaja, maka rasa marah kemudian memecahkan perasaan anak, merendahkan nilai anak….Guci lebih berharga saat itu…!
Kadang dia lebih rendah nilainya dari sebuah mangkok atau piring…  yang jika pecah, suara kemudian meninggi memecahkan hati sang anak…
Atau lebih rendah dari semangkok sayur yang tertumpah kerena tangan kecilnya berusaha membantu ibu di dapur.
Mata yang melotot terasa lebih pantas walaupun harus menumpahkan air mata sang anak…!
Atau lebih rendah dari sebuah mobil baru yang jika tergores maka goresannya dianggap lebih berbahaya ketimbang goresan luka di hati sang anak…
Kadang anak juga lebih rendah nilainya disbanding facebook atau pertandingan bola….
Sehingga lebih banyak waktu dan keseriusan yang dihabiskan untuk facebook dan nonton bola ketimbang mendengarkan cerita anaknya di sekolah..
Kadang anak lebih rendah nilainya dari handphone..”gak boleh nanti rusak….!”
Kekhawatiran HP rusak lebih besar dibanding kekhawatiran rusaknya perasaan sang anak.
Berapa nilai anak bagi kita? Adalah sejauh keikhlasan kita menahan diri hingga tidak merusak hatinya….
Adalah sejauh kemampuan kita menempatkan harga dirinya jauh di atas benda-benda mati yang kita miliki…. Benda itu tudak akan menolong kita di yaumil akhir….!
Sementara anak, adalh investasi kita di hadapan Allah.
Dia  yang akan memperpanjang usia historis kita dengan doa dan amal sholih yang kita ajarkan dan dia melakukannya… Ya  Allah… Jika ada keburukan akhlak kami ketika membesarkannya… Hilangkanlah dari dari ingatan anak-anak kami…
Hilangkan jejak-jejak keburukan dari tangan, mata, atau mulut kami.


Anak adalah amanah yang Allah SWT anugrahkan untuk kedua orang tua. 

Selasa, 03 Maret 2015

RAHASIA SHOLAT AWAL WAKTU

Rahasia mengapa sholat harus awal waktu.
Menurut para ahli, setiap perpindahan waktu sholat bersaan dengan terjadinya perubahan tenaga alam dan dirasakan melalui perubahan warna alam.
Berikut ini kaitan antara sholat di awal waktu dengan warna alam.

1. Waktu Sholat Subuh.
Pada waktu subauh, alam berada pada spektrum warna biru muda  yang sesuai dengan frekuensi tiroid (kelenjar gondok)

Dalam ilmu fisiologi  (ilmu biologi yang mempelajari berlangsungnya sistem kehidupan) tiroid mempunyai pengaruh terhadap  sistem metabolisme tubuh manusia.

Warna biru muda mempunyai rahasia tersendiri berkaitan dengan rezeki dan komunikasi. Mereka yang masih tertidur nyenyak pada waktu subuh akan menganghadapi masalah rezeki dan komunikasi.

Mengapa? Jawabanya adalah ketika tiroid tidak dapat menyerap tenaga biru muda di alam roh dan jasad masih tertidur.

Pada saat azan subuh berkumandang tenaga alam ini berada pada tingkat optimal. Tenaga inilah yang kemudian diserap oleh tubuh kita terutama pada waktu ruku dan sujud.

Kamis, 01 Januari 2015

ANTARA TAHUN BARU HIJRIYAH DAN TAHUN BARU MASEHI

Walaupun sama-sama pergantian tahun namun terdapat perbedaan mencolok anatara Tahun Baru Hijriyah dengan Tahun Baru Masehi. Secara wasilah jelas akan berbeda karena Tahun Baru Hijriyah penanggalannya berdasarkan peredaran bulan, sedangkan Tahun Baru Masehi penangalannya berdasarkan matahari.

Banyak orang yang tidak mengetahui alasan mengapa pergantian tahun masehi dirayakan secara hura-hura sedangkan penyambutan Tahun Baru Hijriyah tanpa hingar bingar dan pesta kembang api dan hura-hura, sedangkan pergantian Tahun Baru Hijriyah diperingati dengan istighosah, dzikir bersama, muhasabah dan tausyiyah atau tabligh akbar.

Pergantian tahun hijriyah digunakan oleh kaum Muslilimin dan Muslimah untuk bermuhasabah merenungi perjalanan hidup sehingga mawas diri dan dapat mengevaluasi diri agar tahun berikutnya bisa lebih baik. Tahun Baru Hijriyah di tetapkan semenjak Rosululloh SAW hijrah dari Makkah ke Madinah karena hidupnya terancam sekaligus sebagai sebuah ujian bagi Kaum Muslimin akan keimanan kepada Alloh SWT dan kesetiaan kepada Rosululloh SAW.

Adapun Tahun Baru Masehi merupakan waktu yang dianggap sebagai bentuk perayaan hari JANUS
dengan mengitari api unggun, meniup terompet, berpesta poya, dan bernyanyi bersama.

Demikianlah perbadaan mendasar bagi ke dua penanggalan yang selama ini diikuti oleh kaum muslimin yang tidak mengerti sejarah permulaan perayaan tahun baru masehi.

Kamis, 03 Juli 2014

ANAK CERMIN ORANG TUANYA

Dalam majalah “Family Guide” menjelaskan beberapa sifat anak yang mencerminkan tentang siapa dan bagaimana sesunguhnya orang tuanya itu antara lain sebagai berikut:
     1. Jika anakmu BERBOHONG,itu karena engkau MENGHUKUMNYA terlalu BERAT.
     2. Jika anakmu TIDAK PERCAYA DIRI,itu karena engkau TIDAK MEMBERI dia SEMANGAT
   3. Jika anakmu KURANG BERBICARA,itu karena engkau TIDAK MENGAJAKNYA BERBICARA
4. Jika anakmu MENCURI,itu karena engkau TIDAK MENGAJARINYA MEMBERI.
5. Jika anakmu PENGECUT,itu karena engkau selalu MEMBELANYA.
6. Jika anakmu TIDAK MENGHARGAI ORANG LAIN,itu karena engkau BERBICARA
TERLALU KERAS
KEPADANYA.
7. Jika anakmu MARAH,itu karena engkau KURANG MEMUJINYA.
8. Jika anakmu SUKA BERBICARA PEDAS, itu karena engkau TIDAK BERBAGI   DENGANNYA.
9.  Jika anakmu MENGASARI ORANG LAIN,itu karena engkau SUKA MELAKUKAN  KEKERASAN TERHADAPNYA.
10. Jika anakmu LEMAH,itu karena engkau SUKA MENGANCAMNYA.
11. Jika anakmu CEMBURU,itu karena engkau MENELANTARKANNYA.
12. Jika anakmu MENGANGGUMU,itu karena engkau KURANG MENCIUM & MEMELUKNYA
13. Jika anakmu TIDAK MEMATUHIMU,itu karena engkau MENUNTUT TERLALU BANYAK
padanya.
14. Jika anakmu TERTUTUP,itu karena engkau TERLALU SIBUK.

Pesan Bapak Buat Anak

Seorang pemuda duduk di hadapan laptopnya. Login facebook. Pertama kali yang dicek adalah inbox.
Hari ini dia melihat sesuatu yang tidak pernah dia pedulikan selama ini. Ada 2 dua pesan yang selama ini ia abaikan. Pesan pertama, spam. Pesan kedua…..dia membukanya. 
Ternyata ada sebuah pesan beberapa bulan yang lalu.
Diapun mulai membaca isinya:
“Assalamu’alaikum. Ini kali pertama Bapak mencoba menggunakan facebook. Bapak mencoba menambah kamu sebagai teman sekalipun Bapak tidak terlalu paham dengan itu. Lalu bapak mencoba mengirim pesan ini kepadamu. Maaf, Bapak tidak pandai mengetik. Ini pun kawan Bapak yang mengajarkan.
Bapak hanya sekedar ingin mengenang. Bacalah !
Saat kamu kecil dulu, Bapak masih ingat pertama kali kamu bisa ngomong. Kamu asyik memanggil : Bapak, Bapak, Bapak. Bapak Bahagia sekali rasanya anak lelaki Bapak sudah bisa me-manggil2 Bapak, sudah bisa me-manggil2 Ibunya”.
Bapak sangat senang bisa berbicara dengan kamu walaupun kamu mungkin tidak ingat dan tidak paham apa yang Bapak ucapkan ketika umurmu 4 atau 5 tahun. Tapi, percayalah. Bapak dan Ibumu bicara dengan kamu sangat banyak sekali. Kamulah penghibur kami setiap saat.walaupun hanya dengan mendengar gelak tawamu.
Saat kamu masuk SD, bapak masih ingat kamu selalu bercerita dengan Bapak ketika membonceng motor tentang apapun yang kamu lihat di kiri kananmu dalam perjalanan.
Ayah mana yang tidak gembira melihat anaknya telah mengetahui banyak hal di luar rumahnya.
Bapak jadi makin bersemangat bekerja keras mencari uang untuk biaya kamu ke sekolah. Sebab kamu lucu sekali. Menyenangkan. Bapak sangat mengiginkan kamu menjadi anak yang pandai dan taat beribadah.
Masih ingat jugakah kamu, saat pertama kali kamu punya HP? Diam2 waktu itu Bapak menabung karena kasihan melihatmu belum punya HP sementara kawan2mu sudah memiliki.
Ketika kamu masuk SMP kamu sudah mulai punya banyak kawan-kawan baru. Ketika pulang dari sekolah kamu langsung masuk kamar. Mungkin kamu lelah setelah mengayuh sepeda, begitu pikir Bapak. Kamu keluar kamar hanya pada waktu makan saja setelah itu masuk lagi, dan keluarnya lagi ketika akan pergi bersama kawan-kawanmu.
Kamu sudah mulai jarang bercerita dengan Bapak. Tahu2 kamu sudah mulai melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi lagi. Kamu mencari kami saat perlu2 saja serta membiarkan kami saat kamu tidak perlu.
Ketika mulai kuliah di luar kotapun sikap kamu sama saja dengan sebelumnya. Jarang menghubungi kami kecuali disaat mendapatkan kesulitan. Sewaktu pulang liburanpun kamu sibuk dengan HP kamu, dengan laptop kamu, dengan internet kamu, dengan dunia kamu.
Bapak bertanya-tanya sendiri dalam hati. Adakah kawan2mu itu lebih penting dari Bapak dan Ibumu? Adakah Bapak dan Ibumu ini cuma diperlukan saat nanti kamu mau nikah saja sebagai pemberi restu? Adakah kami ibarat tabungan kamu saja?
Kamu semakin jarang berbicara dengan Bapak lagi. Kalau pun bicara, dengan jari-jemari saja lewat sms. Berjumpa tapi tak berkata-kata. Berbicara tapi seperti tak bersuara. Bertegur cuma waktu hari raya. Tanya sepatah kata, dijawab sepatah kata. Ditegur, kamu buang muka. Dimarahi, malah menjadi-jadi.
Malam ini, Bapak sebenarnya rindu sekali pada kamu.
Bukan mau marah atau mengungkit-ungkit masa lalu. Cuma Bapak sudah merasa terlalu tua. Usia Bapak sudah diatas 60 an. Kekuatan Bapak tidak sekuat dulu lagi.
Bapak tidak minta banyak…
Kadang-kadang, Bapak cuma mau kamu berada di sisi bapak. Berbicara tentang hidup kamu. Meluapkan apa saja yang terpendam dalam hati kamu. Menangis pada Bapak. Mengadu pada Bapak.Bercerita pada Bapak seperti saat kamu kecil dulu.
Andaipun kamu sudah tidak punya waktu samasekali berbicara dengan Bapak, jangan sampai kamu tidak punya waktu berbicara dengan Alloh.
Jangan letakkan cintamu pada seseorang didalam hati melebihi cintamu kepada Alloh.
Mungkin kamu mengabaikan Bapak, namun jangan kamu sekali2 mengabaikan Allah.
Maafkan Bapak atas segalanya. Maafkan Bapak atas curhat Bapak ini. Jagalah solat. Jagalah hati. Jagalah iman. ”

Pemuda itu meneteskan air mata, terisak. Dalam hati terasa perih tidak terkira................... 
Bagaimana tidak ? 
Sebab tulisan ayahandanya itu dibaca setelah 3 bulan beliau pergi untuk selama-lamanya.

Senin, 30 Juni 2014

ILUSTRASI RAMADHAN

Pada suatu hari yang indah dan mempesona di alam fana ini, dimana seluruh kaum Muslimin wal muslimat sebagai penghuni permukaan dunia sudah pasti dalam kurun waktu satu tahun tak terkecuali di lintasan udara wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, akan merasakan kehadiran sebuah pesawat terbang canghih dan mewah edisi terbaru yang sifatnya limited tentu  saja akan segera lepas landas dari Bandara SYA’BAN.
Pramugari dan pramugara yang ramah dan baik hati dan tidak sombong tentu akan menyapa para penumpangnya dengan ucapan HASANAH yang ramah dan tuturkatanya yang lembut.

"Selamat datang di Pesawat RAMADHAN AIR dengan Nomor Penerbangan 1435 H, dengan tujuan Bandara 'IDUL FITRI siap tingal landas, selamat menikmatinya dan semoga berakhir hingga sampai tujuan dengan mendapat predikat MUTTAQIIN”.

Sesuai dengan peraturan yang tertuang dalam KITAB SUCI AL QURAN dan SUNNAH RASULULLAH, maka kami akan menyampaikan informasi penting untuk seluruh penumpang.

Kita akan terbang dalam kurun waktu satu bulan sekitar 29 atau 30 hari di atas permukaan HAUS dan LAPAR serta hal-hal lain yang membatalkannya.

Untuk itu mohon mengenakan Sabuk PUASA dengan benar, tegakkan sandaran SHALAT baik yang wajib maupun yang sunnah, tutup rapat meja DOSA di depan anda, dan bukalah tirai jendela AMAL selebar dan seluas-luasnya.
Pesawat edisi khusus ini dilengkapi 3 pintu anugerah, Pintu RAHMAT (Pengasih) ada di depan, Pintu MAGHFIRAH (Ampunan) ditengah, dan Pintu ITQUN MINAN NAR (Bebas Api Neraka) di bagian belakang.
Demi alasan keselamatan kita bersama, harap tidak mengaktifkan berbagai jenis MAKSIAT baik yang disengaja ataupun yang tidak selama berada selama pesawat ini mengudara.
Ingat penerbangan ini bebas Asap GHIBAH, RIYA, FUSUQ, dan HASAD DLL.

Selamat menikmati penerbangan anda.

Rabu, 04 Juni 2014

Manfaat dan Madharatnya Hand Phone Bagi Pelajar

PENGARUH HANDPHONE TERHADAP PELAJAR
1. Mengalihkan Perhatian
Tentunya jika kondisi ini terjadi, maka pengaruh HP terhadap prestasi belajar benar-benar mereka
alami. Akibat terlalu memperhatikan HP, maka penjelasan guru diabaikan. Akibatnya, prestasi
mereka-pun merosot. Ini merupakan salah satu akibat dari pengaruh HP pada anak-anak
2. Menurunkan Konsentrasi
Konsentrasi adalah tingkat perhatian kita terhadap sesuatu. Dalam konteks belajar, berarti tingkat
perhatian siswa terhadap segala penjelasan dan bimbingan belajar sang guru. Seharusnya, seluruh
perhatian siswa diarahkan pada apa yang sedang mereka pelajari, tetapi seringkali HP menyita
sebagian besar waktu mereka.
3.Malas Belajar
Anak-anak yang sudah kecanduan HP, maka setiap saat yang dilakukannya hanyalah bermain
HP dan HP. Mereka tidak pernah berpikir pada hal yang lainnya. Bagi mereka, yang terpenting adalah
HP. Jika ke mana-mana tidak ada HP, maka rasanya tidak lengkap, bahkan ada beberapa anak
yang tidak mau melakukan kegiatan karena tidak punya HP.
4. Mengganggu Perkembangan Anak
Dengan canggihnya fitur-fitur yang tersedia di hand phone (HP) seperti : kamera, permainan
(games) akan mengganggu siswa dalam menerima pelajaran di sekolah? Tidak jarang
mereka disibukkan dengan menerima panggilan,sms, miscall dari teman mereka bahkan dari
keluarga mereka sendiri. Lebih parah lagi ada yang menggunakan HP untuk mencontek (curang)
dalam ulangan. Bermain game saat guru menjelaskan pelajaran dan sebagainya. Kalau hal
tersebut dibiarkan, maka generasi yang kita harapkan akan menjadi budak teknologi.
5. Efek radiasi
Selain berbagai kontroversi di seputar dampak negatif penggunaannya,penggunaan HP juga
berakibat buruk terhadap kesehatan, ada baiknya siswa lebih hati-hati dan bijaksana dalam
men ggunakan atau memilih HP, khususnya bagi pelajar anak-anak. Jika memang tidak terlalu
diperlukan, sebaiknya anak-anak jangan dulu diberi
6. Sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan perilaku siswa.
Jika tidak ada kontrol dari guru dan orang tua. HP bisa digunakan untuk menyebarkan gambar-
gambar yang mengandung unsur porno dan sebagainya yang sama sekali tidak layak dilihat
seorang pelajar.
7. Pemborosan
Dengan mempunyai HP, maka pengeluaran kita akan bertambah, apalagi kalau HP hanya
digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat maka hanya akan menjadi pemborosan yang saja.
8. Meningkatnya video porno dan kata-kata yang tidak senonoh

Akibat yang sangat berbahaya oleh siswa adalah penggunaan HP dengan tujuan yang menyimpang
seperti mengisi video porno ke dalam HP dan menggunakan kata-kata yang tidak senonoh. Tak
sedikit pelajar yang ketahuan menyimpan video dan foto yang tidak senonoh di HP mereka. Di
samping itu juga HP digunakan untuk tukar- tukaran jawaban ujian.

Kamis, 01 Mei 2014

Refleksi Hardiknas : POTRET PENDIDIKAN BAGAIKAN HIDUP SEGAN MATI TAKMAU

Krisis multi dimensi kini merambah dalam dunia pendidikan Indonesia. Tampaknya tidaklah keliru apa bila dikatakan pendidikan kita sedang mengalami mati suri. Bukti konkrit yang dapat dibuktikan dengan munnculnya kasus-kasus yang sangat mengemparkan bangsa sehingga membuat pendidikan kita makian  terpuruk. Sesunguhnya pendidkan itu adalah upaya memanusiakan manusia agar hidupnya mulia baik dihadapan manusia atau dihadapan Ilahi. Pendidikan itu merupakan agen of change bagi manusia sehingga hidupnya kian bermakna dan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
Perubahan yang kini sedang gencar disosialisasikan dengan cara melakukan perubahan kurikulum tampaknya akan sia-sia, karena hanya bersifat parsial tidak menyeluruh bahkan menyentuh praktisi pendidikan secara continue.
Sesunguhnya apa yang keliru dengan pendidikan Indonesia ini? Mengapa Indonesia ini tidak langsung diperbaiki? Sekadar illustrator, munculnya buku “Sekolah Para Binatang”. Buku ini dapat dianalogikan dengan kondisi yang sesungguhnya tentang pendidikan Indonesia selama ini. Dalam sekolah ini diberlakukan kurikulum secara menyeluruh dengan tanpa melihat latar belakang dari binatang dalam melaksanakan kurikulum yang diterapkan.
Tampaknya kondisi ini tidak akan beranjak apabila tidak ada pionir yang mendobrak system pendidikan yang tampaknya akut. Dibalik semua ini ada kondisi yang kontara diktif dengan munculnya sekolah Islam Terpadu , sekolah alam, home schooling yang dapat dijadikan alternative untuk meluruskan tujuan pendidikan untuk memanusiakan manusia. Namun pertanyaan kecil yang dianggap sepele: “ Benarkah pendidikan semacam itu yang diharapkan bangsa Indonesia?” atau jangan-jangan ada alternative lain yang lebih baik.

Bagaimana dengan system yang diuswahkan Rosululloh SAW? Pertanyaannya dapatkan diterapkan di Indonesia? Kalau bias, apa saja yang harus dipersiapkan dan bagaimana cara menerapkannya? Marilah kita renungkan bersama saat refleksi HARDIKNAS ini!

Senin, 28 April 2014

BUDAYA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI PARA PENDIDIK DI INDONESIA

Oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

...Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
***
Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Senin, 24 Maret 2014

GURU KRITIS & GURU IDEALIS

Manusia kritis dan pejuang kemerdekaan pada zaman kolonialisme Belanda disebut pemberontak atau ekstrimis. Pemerintah selalu alergi terhadap “pejuang” yang mengkritisi dan melawan kebijakannya. Setiap zaman selalu melahirkan manusia-manusia kritis yang berseberangan dengan paradigma pemerintah. Sebut saja Retno Listyarti, seorang guru SMAN 13 Jakarta yang sering berseberangan dengan kebijakan pemerintah. Ia adalah guru “pemberontak” yang terus menyuarakan keadilan dalam dimensi pendidikan.
Ia pernah berseberangan dengan kepala dinas pendidikan Jakarta, menyuruh mundur mendiknas, melawan keputusan gubernur DKI Jakarta tentang tunjangan guru, bahkan sampai bermasalah hukum dengan Akbar Tanjung karena buku pelajaran yang ditulisnya. Ia mengkritisi berbagai dinamika pendidikan mulai dari SKB 5 menteri, organisasi profesi, soal UN, RSBI, masalah MGMP, lemahnya militansi guru, pengangkatan kepala sekolah, politisasi profesi guru, kurikulum 2013 dll.
Ditengah pemberontakannya terhadap dunia pendidikan Iapun memiliki prestasi diantaranya adalah; Pemenang citi succes fund dari City Bank (2004); Penerima Award dalam bidang science dari Toray Foundation Japan (2004); Pemenang Go Green School dari Yayasan Kehati (2005); Penerima Award sebagai tokoh pendidikan dari PKS (2007); Juara 1 Lomba Karya Tulis “Kata Mutiara Bung Karno” dari PDIP (2010); Juara 1 Lomba Karya Tulis Lingkungan dari Pertamina (2011); Juara 1 Lomba Karya Tulis Konstitusi dari Mahkamah Konstitusi (2011) plus Retno sudah menghasilkan 9 buah buku,47 artikel, dan 89 makalah.
Munculnya sistem lelang jabatan kepala sekolah membuat Ia berpeluang mengikuti seleksi yang sebelumnya tidak mungkin. Mengapa demikian? Karena menjadi kepala sekolah harus ada rekomendasi dari kepala sekolah sebelumnya. Tanda tangan kepala sekolah inilah yang menurut Retno Listyarti tidak terlalu penting karena dimungkinkan ada unsur KKN. Tanda tangan dapat menjadi tanda “penutup” saldo dan manajemen gelap sebelumnya. Akhirnya Ia terpilih menjadi kepala sekolah hasil sistem lelang. Ini sebuah kesempatan bagi “ sang pemberontak” untuk memperbaiki pendidikan secara mikro di satuan pendidikannya dan secara makro di Indonesia.
Ada beberapa pernyataan Retno Listyarti “Sang Pemberontak” sebelum Ia menjadi kepala sekolah tahun ini 2014 terhadap eksisitensi guru. Pernyataan itu diantaranya adalah; guru jarang (tidak) memiliki militansi untuk memperjuangkan idealisme pendidikan, lebiah senang hanya berdoa atau titip doa bukan terjun langsung kelapangan. Guru dengan organisasinya selama ini tidak mampu memiliki posisi tawar yang tinggi dan sederajat atas berbagai kebijakan pendidikan di Indonesia. Organisasi guru selama ini cenderung menjadi legitimasi atas berbagai kebijakan pemerintah di bidang pendidikan.
Selanjutnya Retno menyatakan, guru sebaiknya berani melawan ketidakadilan—berbagai diskriminasi dalam segala bentuk, guru harus mampu mengajak siswanya untuk berbagi keresahan akan kondisi negeri ini. Guru harus mampu mempertajam pikiran dan menghaluskan perasaan murid-muridnya. Guru adalah sebuah kekuatan raksasa untuk mengubah negeri ini, namun sayangnya para guru Indonesia merupakan raksasa yang tertidur sangat lelap —saking lelapnya sampai tidak terbangun meski memperoleh berbagai gangguan berat apalagi ringan—, benar-benar terlelap hingga tak bergerak –tak melawan– meskipun didiskriminasi, diintimidasi, bahkan ditindas.
Guru cenderung menerima begitu saja perlakuan dari birokrasi pendidikan yang berkolaborasi dengan kekuasaan tanpa membantah, tanpa melawan dan tanpa memberontak. Karena dia (para guru) juga pengecut maka dia pun (para guru) tidak pernah mengajak muridnya untuk berani menegakan kebenaran dan keadilan, apalagi mengajak untuk menjadi pemberontak.
Kondisi guru Indonesia yang seperti ini, tentu saja penghambat utama dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan. Retno bertanya, Apa kita akan menunggu sampai terjadinya Revolusi setelah keadaan Indonesia seperti di Libya, Mesir, Bahrain dan Yaman? Di negara-negara tersebut, Pemerintah mengabaikan pendidikan, sehingga menciptakan kesenjangan sosial dan ekonomi, tingginya pengangguran, dan tingginya angka penduduk yang buta aksara, serta tingginya angka kemiskinan.
Pernyataan Retno Listyarti di atas setidaknya menjadi sebuah “jabatan” tangan dari Retno agar para guru harus lebih kritis, meningkatkan kompetensi dan tidak diam dan hanya titip doa dalam memperjuangkan sebuah idealisme. Guru adalah raksasa yang harus bangun memperbaiki kelemahan pendidikan negeri ini bukan sebaliknya, tidur ngorok dan susah dibangunkan. Guru jangan hanya bangun ketika negeri ini sudah terlambat untuk diperbaiki.

Penulis :Dudung Koswara, M.Pd.

Rabu, 12 Februari 2014

MAKNA SUPERVISI GURU BAGI KUALITAS KINERJA

Dalam konteks pendidikan, istilah supervisi pada umumnya lebih  diartikan sebagai kegiatan pengawasan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah terhadap guru dalam upaya membantu meningkatkan profesionalisme guru. Selanjutnya, muncul pula istilah peer supervision (supervisi sejawat) yaitu kegiatan supervisi yang dilakukan bersama rekan sejawat,  saling bekerjasama guna  meningkatkan kompetensi dan kinerjanya.

Kedua bentuk supervisi  di atas bertumpu pada pengawasan seseorang oleh orang lain, baik oleh atasan maupun teman sejawat. Dalam kasus-kasus tertentu pengawasan oleh orang lain seperti ini mungkin dapat menimbulkan ketidaknyamanan psikologis. Misalnya, merasa menjadi tertekan dan risi,  seolah-olah  kehidupan kerjanya diambil alih dan dikendalikan  oleh orang lain.

Belakangan ini muncul istilah Supervisi Diri (Self Supervision), yaitu salah satu model supervisi yang memungkinkan pihak yang disupervisi (supervisee) memiliki independensi dalam bekerja, dapat mengelola diri  dan bertanggung atas pertumbuhan profesionalismenya sendiri.

Merujuk pada tulisan yang dipublikasikan www.exforsys.com, saya akan memberikan gambaran ringkas tentang  Supervisi Diri, khususnya dalam konteks pengembangan profesi guru.

Supervisi diri dapat diartikan sebagai kemampuan seorang  guru untuk memahami kemampuan diri, mengatur diri dan mengevaluasi dirinya sendiri dalam rangka beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan situasi lingkungan kerjanya, sehingga pada gilirannya  dia dapat bekerja secara efektif, efisien dan produktif.

Supervisi diri harus dapat memandu seseorang dalam mengelola berbagai kegiatan dan pekerjaannya. Beberapa contoh hasil dari praktik supervisi diri yang dilakukan guru:
·                     Guru dapat melakukan tugas tanpa terus-menerus harus diingatkan oleh atasan
·                     Guru membuat program dan rencana kerja tertulis secara benar dan tepat.
·                     Guru mampu mencurahkan segenap pikirannya dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan tanpa gagal  dan tepat waktu.
·                     Guru membuat  laporan tugas yang telah diselesaikannya secara tertulis
Supervisi diri memiliki aspek penting yaitu kemampuan merefleksi atas tugas-tugas yang dilakukannya, didalamnya terdiri dari 2 (dua) komponen penting,  yaitu: (1) observasi diri (self-observation) dan (2) penilaian diri (self-assessment).

Observasi diri yaitu senantiasa memperhatikan dan waspada atas apa yang Anda lakukan saat ini, di dalamnya mencakup pikiran, perasaan dan tindakan Anda sebagai guru. Sedangkan penilaian diri adalah mengevaluasi kinerja sendiri, mengukur proses dan hasil kegiatan dan tugas-tugas yang dilakukan, termasuk di dalamnya mempertanyakan kembali dampak dan efektivitas dari supervisi diri yang sedang dikembangkannya.

Supervisi diri bukan berarti menjadikan Anda sebagai boss yang dapat bertindak semena-mena atas diri Anda sendiri (apalagi terhadap orang lain), terkait dengan pekerjaan, tetapi lebih mengarah dan menekankan pada pembentukan kesadaran dan tanggung jawab atas tugas-tugas keseharian Anda sebagai guru.

Terdapat tiga kemungkinan hasil supervisi diri: (1) hasil yang obyektif, menggambarkan keadaan dan ukuran nyata; (2) hasil yang under-estimate,menggambarkan keadaan dan ukuran di bawah kondisi nyata,  dan (3) hasil yang over-estimate, menggambarkan keadaan dan ukuran di atas kondisi nyata.   Tentu, yang terbaik adalah supervisi yang dapat menggambarkan keadaan dan ukuran nyata dan sedapat mungkin menghindari terjadinya under-estimate atau over-estimate.
Beberapa pendekatan dan teknik yang dapat digunakan dalam supervisi diri:
1.                  Mengkondisikan pikiran secara tepat dan memadai. Bila Anda ingin belajar bagaimana mengatur kehidupan dan tindakan Anda sendiri,  Anda harus memiliki pola pikir yang tepat. Ini berarti bahwa Anda harus yakin  pada pikiran dan hati nurani Anda sendiri  bahwa Anda bisa menjadi seseorang yang mampu bekerja secara mandiri. Salah satu cara untuk mengkondisikan pikiran adalah dengan berusaha menempatkan diri Anda pada posisi sebagai orang lain. Misalnya sebagai atasan Anda,  melalui cara ini, Anda bisa membayangkan dan memikirkan apa sebenarnya yang diharapkan dan dikehendaki atasan terhadap Anda dalam bekerja. Bagi guru, hal penting adalah berusaha memposisikan diri sebagai siswa yang merupakan  user Anda, sehingga Anda bisa menemukan apa yang dibutuhkan dan dikehendaki siswa  terhadap Anda sebagai gurunya.
2.                  Membuat Checklist Keterampilan. Menyusun dan mengisi checklist atau instrumen pengumpul data akan sangat berguna untuk mengidentifikasi kelemahan dan keunggulan diri Anda, khususnya tentang keterampilan Anda dalam melaksanakan tugas-tugas keseharian Anda. Misalnya, ketika Anda hendak melihat  sejauhmana keterampilan menerapkan pendekatan saintifik dalam melaksanakan pembelajaran. Dengan menggunakan Checklist atau instrumen lainnya yang sesuai, maka Anda  akan dapat menemukan kelemahan-kelemahan spesifik yang masih perlu ditingkatkan.  Idealnya,  Checklist (instrumen) didesain dan dikonstruksi sendiri sehingga bisa menentukan hal-hal spesifik apa yang ingin diungkap dan ditingkatkan. Tetapi jika Anda belum mampu mengkonstruksi sendiri,  Anda bisa memanfaatkan Checklist  (instrumen) buatan orang lain, misalnya menggunakan instrumen yang biasa digunakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah dalam melakukan supervisi kelas.  Anda juga  bisa mencari sendiri di Internet melalui bantuan Google untuk menemukan instrumen yang bisa digunakan untuk kepentingan kegiatan supervisi diri Anda.
3.                  Membuat daftar tugas (to do list). Mencatat agenda rangkaian aktivitas Anda yang isinya memuat jawaban dari pertanyaan apa yang harus  saya lakukan pada hari ini? Ini adalah proses pengambilan keputusan yang tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan tugas sehari-hari yang bersifat rutin tetapi di dalamnya terkandung proses perbaikan, mengacu pada data yang diperoleh berdasarkan hasil kegiatan instrumentasi (Checklist).

4.                  Teknik  Bercermin (mirroring technique). Anda mungkin punya idola atau mengagumi seseorang, baik tokoh dunia, tokoh nasional  atau bahkan orang-orang  di sekitar Anda, seperti: orang tua, teman sejawat, atau atasan Anda yang dianggap sukses. Anda bisa bercermin dan belajar dari mereka  tentang bagaimana cara dan gaya mereka dalam menghadapi hidup dan tantangan hidup, termasuk  dalam bekerja. Tidak ada salahnya jika Anda meniru mereka dan menjadikan mereka sebagai inspirasi bagi Anda dalam bekerja. Kendati demikian, dalam proses selanjutnya, Anda perlu  mengembangkan cara dan gaya Anda sendiri yang paling sesuai dan Anda merasa nyaman melakukannya.

Amazing Camp