href='http://www.blogger.com/favicon-image.g?blogID=5195730972603891725' rel='icon' type='image/x-icon'/>

Selamat Datang/Wilujeng Sumping

Selamat datang di blog ini semoga mampu memberi manfaat bagi kita semua

Memory in al-fatah

Album Foto Sdit Al Fatah Slideshow: Nana’s trip from Bekasi, Java, Indonesia to Jakarta was created by TripAdvisor. See another Jakarta slideshow. Take your travel photos and make a slideshow for free.

Senin, 10 September 2012

Pentingkah RPP dalam Pembelajaran?


Ada diskusi sangat menarik di sebuah Forum Guru Republik Indonesia beberapa hari yang lalu. Diskusi itu dipicu oleh postingan salah satu anggotanya. Dalam postingannya dia menuliskan kata provokatif berikut ini: Guru profesional adalah guru yang mampu mengajar tanpa RPP!.Kontan saja postingan ini mendapat tanggapan yang beragam. Dari yang `melawan` sampai yang memberikan pembenaran-pembenaran terhadapnya.
Saya memandang diskusi ini sangat menarik karena paling tidak terhadap dua alasan yang melatar belakanginya. Pertama, dalam satu sisi, pernyataan di atas mungkin benar adanya, mengingat kenyataan di lapangan RPP hanya menjadi prasyarat administrasi. RPP hanya dijadikan sebagai alat dan bukti kalau guru telah menyiapkan materi dalam jangka waktu tertentu (1 semester). Dalam hal yang lebih birokratis, sebagai prasyarat penting bagi kenaikan pangkat dan angka kredit.
Kecenderungan-kecenderungan pemenuhan syarat administrasi di atas kadang menjadikan sebagian guru memilih jalan termudah: copy paste. Comot sana comot sini yang penting ada bukti fisik RPP. Atau meminta bantuan orang cerdas semacam mbah google, kemudian mendownload RPP yang sudah jadi,mengganti kepemilikan menjadi dirinya, menjilidnya rapi dan melegalisasinya di TU. Dalam konteks ini kemudian RPP tidak banyak membantunya dalam pembelajaran.Hanya menjadi tumpukan-tumpukan kertas yang kadang tidak sempat disentuh,apalagi terbaca (pengalaman pribadi).
Lantas dari mana guru mendapat acuan pembelajarannya. Bukankah RPP laksana route map yang memetakan dari mana kita berangkatnya dan dengan apa mencapai tujuan pembelajarannya?. Memang, pengalaman pribadi saya, menunjukkan bahwa tanpa RPP pun seorang guru  dapat mengajar. Tanpa RPP pun seorang guru mampu menyelesaikan target materi, tanpa `membuat` RPP pun seorang bisa naik pangkat, namun apakah pemenuhan itu ujung dari keberadaan kita sebagais eorang guru.
Tidakkah kita pernah bertanya, apakah pembelajaran kita aman-aman saja, tidak menubruk sana sini, atau tidak terjebak satu sisi pemahaman dan mengaburkan pemahaman yang lainnya? Atau tidak melayang kemana-mana tanpa arah? Mengingat seorang guru yang tidak memiliki gambaran atas apa yang akan dilakukan justru kelebihan waktu dan hanya ingin menunggu lonceng berbunyi semata?
Okey lah mungkin kita termasuk bagian dari book slave, budak buku paket, yang mengajar bukan atas RPP yang kita buat namun berdasar buku paket dan semacamnya. Bisa jadi kita dalam kondisi ini mengajar tanpa RPP pun bisa jalan.Cukup mengetahui pelajaran mana yang akan kita sampaikan, beri penjelasan,bisa penjelasan yang comprehensive atau sekedarnya, diakhiri perintah kita bagi siswa untuk mengerjakan latihan soal. Kalau demikian kita tidak ubahnya laksana robot yang mengikuti alur sebuah buku dari satu halaman kehalaman berikutnya. Bukulah yang menentukan apa yang harus dan tidak harus kita ajarkan. Lantas dimana kemerdekaan kita sebagai guru, dimanakah letak kreatifitas kita jika dalam soal kecil saja kita harus didikte oleh buku paket dan perusahaan pembuatnya.? Sebenarnya buku paket hanya sebagian alat bantu pembelajaran kita, yang utama bagaimana kemampuan kita mengorkestrasi serangkaian bahan dan sumber belajar menjadi harmony pembelajaran yang dahsyat.
Latar belakang kedua adalah bahwa RPP sangat penting perannya dalam pembelajaran. Ialah yang akan menjadi salah satu acuan penting bagaimana seharusnya pembelajaran dilaksanakan dengan alat, metode dan tujuan-tujuan tertentu. Inilah manual pembelajaran kita yang akan memudahkan kita mengelolah kelas. RPP tidak akan hanya member kesempatan kita menyajikan pembelajaran yang lebih baik, namun yang terpenting adalah adanya kesempatan untuk melakukan refleksi atas apa yang telah dibelajarkan selama ini.
Inilah sesungguhnya peran penting RPP sebagai bahan refleksi pembelajaran.Harapannya akan ada perbaikan pembelajaran di episode-episode selanjutnya. Selama ini memang kita dituntut untuk mampu membuat RPP yang efektif dalam penyampaian dan efisien dalam penggunaan waktunya. Namun, tanpa kita sadari sesungguhnya kita tidak pernah memprediksikan apa yang akan terjadi saat pembelajaran dalam RPP tersebut. Hal inilah yang sering menjadikan RPP kehilangan Rohnya. Lahanya lembaran kertas yang tidak mampu banyak membantu kendala-kendala yang kita hadapi di ruang kelas.
Kedepannya, alangkah baiknya jika RPP kita dilengkapi dengan gambaran kelas dan segala yang berada di dalamnya. Semisal potensi, kecenderungan, kendala yang mungkin kita hadapi di dalam kelas tersebut. Semoga diskusi ini semakin menyadarkan saya dan guru lainnya akan arti penting persiapan dalam pembelajaran. Pemeo guru menang semalam, sudah seharusnya kita buang jauh-jauh, karena kini kita menghadapi murid yang berbeda dan dapat dengan mudah mendapat pengetahuan sebagaimana kita dulu. Akhirnya mari kita buat RPP kita sendiri sesuai dengan pengalaman dan refleksi kita selama prose KBM dilaksanakan plus evaluasi atas segala hal yang dialami saat mengajar, sehingga hasil yang diharapkan maksimal.


Contextual Teaching and Learning (Pembelajaran Kontekstual)


Contextual teaching and learning atau pembelajaran kontekstual merupakan bagian dari pembelajaran kooperatif. Untuk itu sebelumnya dijelaskan pengertian dari pembelajaran kooperatif (cooperativ learning).
a.    Definisi Cooperatif Learning. 
Menurut Lie (2008: 28) “falsafah yang mendasari penerapan pembelajaran cooperatif learning dalam pendidikan adalah manusia sebagai makhluk sosial, sehingga kerja sama merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup”. Perbedaan pembelajaran cooperatif learning dengan pembelajaran kelompok adalah bahwa dalam pembelajaran cooperatif learning terdapat 5 unsur yang harus diterapkan yaitu: saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, kesempatan bertatap muka dan berdiskusi, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok.
Lebih lanjut Lie (2004) menyatakan “Pembelajaran cooperatif learning adalah suatu metode pembelajaran yang menekankan siswa lebih aktif daripada guru”. Sistem pembelajaran ini mengajak siswa untuk aktif didalamnya, kreatif dan belajar menerima keragaman. Jadi siswa dituntut kekompakannya untuk bekerjasama satu dengan yang lainnya dan saling bertanggung jawab. Jadi keberhasilan belajar dalam pendekatan ini bukan hanya ditentukan oleh kemampuan individual secara utuh. Melainkan perolehan itu akan berhasil bila dilakukan bersama-sama dalam kelompok kecil yang terstruktur dengan baik. 
b.    Definisi Contextual Teaching and Learning
Menurut Agus (2005:29), pembelajaran dengan Pendekatan contextual teaching and learning (CTL) adalah peran guru dalam proses pembelajaran diharapkan dapat membantu siswanya membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki sebelum dengan pengetahuan yang baru dan menjadikan siswa mampu menggunakan pemahamannya untuk mengembangkan dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi siswa.
Selanjutnya menurut Nurhadi (2003: 63) dinyatakan bahwa pendekatatan CTL adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia guru keseharian siswa ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkontruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan dalam kehidupan sebagai anggota masyarakat 
Berkaitan dengan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan CTL adalah system yang holistic (menyeluruh) yang dapat meningkatkan kemampuan pembelajaran dalam membangun makna yang dipelajarinya. Dalam pembelajaran CTL maka siswa dapat menguatkan, memperluas dan menerapkan pengetahuan dan keterapilan akademik dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar masalah-masalah yang diasimilasikan.
Pendekatan CTL menurut Umedi (2002: 42), merupakan konsep belajar yang membantu guru mangaitkan materi diajarkannya dengan situasi yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai pembelajaran efektif. Yakni, kontruksivisme (Contructivisme), bertanya (Quistioning), Menemukan (Inquiri), Masyarakat Belajar (Learning Community), Pemodelan (Modeling), Refleksi (Refleksion), dan Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessement)”.
Berkaitan dengan pendapat tersebut, Pendekatan CTL adalah system yang holistic (menyeluruh) yang dapat meningkatkan kemampuan pembelajaran dalam membangun makna yang dipelajarinya. Dalam pembelajaran CTL maka siswa dapat menguatkan, memperluas dan menerapkan pengetahuan dan keterapilan akademik dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar masalah-masalah yang diasimilasikan. Dan pembelajaran CTL ini terjadi apabila siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah sehari-hari  yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagi makhluk hidup dalam suatu ekosistem (Nurhadi, 2003: 73).
c.    Faktor-faktor yang Mendukung Pembelajaran Kontekstial
Menurut Sanjaya (2005: 37), ada tiga hal yang perlu dipahami dalam penerapan Pendekatan CTL, yaitu Pertama, Pendekatan CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menentukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman langsung. Proses belajar dalam konteks. Pendekatan CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran. Kedua, Pendekatan CTL mendorong agar siswa dapat menemukan  hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan dengan pengalaman belajkar di sekolah dengan kehidupan nyata. Ketiga,  Pendekatan CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya Pendekatan CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan, artinya Pendekatan CTL bukan hanya mengahap siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya akan tetapi meteri pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.

Arti Sebuah Senyuman Seorang Guru


Sering kali keluguan dan kejujuran anak-anak membukakan sebuah kenyataan. Hal ini pula yang saya alami sesaat setelah mendengar cerita dari Muhammad Taffarel Al Ghazali. Dia bercerita tentang sekolah yang membuatnya bahagia dan betah berada di dalamnya. Bukan sekolah yang mewah dengan fasilitas segudang,atau bukan pula sekolah dengan guru-guru terbaik bergelar sejagad. Bukan itu ternyata, ianya hanyalah sebuah sekolah yang guru-gurunya selalu menebar senyum dan keramahan padanya. Senyum dan keramahan itulah yang membuatnya merasa nyaman dan aman berada di dalamnya. Dan itulah sekolah yang baik baginya.
Muhammad Taffarel Al Ghazali ini mencoba membandingkan sekolahnya saat ini (sebuah Sekolah dasar negeri) dengan sekolah yang baru  di kenalnya tadi. Bukan tanpa alasan jika dia membandingkan dan kemudian menarik kesimpulan semacam itu. Kesimpulannya tidak datang tiba-tiba,mengingat ada sebuah peristiwa yang melatarbelakanginya. Suatu pagi, dia pulang kerumah membawa sebuah tangisan dengan ekspresi wajah aneh. Ekspresi wajahnya  mengguratkan ketakutan dan rasa bersalah yang dalam. Setelah di Tanya barulah dia menjelaskan alasan dibalik kepulangannya pagi itu. Rupanya sang guru membentaknya di depan teman-temannya. Hanya  karena dia tidak membawa buku PR Matematikanya. Kemudian dijelaskan kepada saya mengapa dia tidak membawanya,alasannya cukup rasional,karena pada hari itu tidak ada pelajaran Matematika. Keputusannya untuk tidak membawa buku Matematika dalam hal ini benar adanya. Dia mencoba menaati aturan-aturan yang dibuat bersama dengan guru dan kelasnya. Sejak peristiwa itu dia selalu diliputi oleh ketakutan dan kekawatiran akan amarah sang guru. Tangisan adalah ungkapan emotionalnya jika lupa membawa sesuatu atau salah melakukan sesuatu sesuai perintah gurunya. Saya sangat bersedih ,karena peristiwa itu telah melumpuhkan salah satu syaraf percaya dirinya.
Dan cerita diatas mengingatkan saya pada sebuah cerita lain berjudul The Little Boy. Seorang anak kecil yang datang ke sekolah dengan perasaan senang dan bahagia. Rasa-rasanya tidak ada hari sebahagia saat pertama kali mengenyam bangku sekolah itu.Suatu pagi,gurunya berkata”hari ini kita akan menggambar”. “Horee” jawab The Litle Boy.Dia memang senang sekali menggambar,dari singa,macan,ayam sampai sapi. Lalu mulailah dia mengambil crayon dan menggores-goreskan  di buku gambarnya.Tapi,” tunggu,waktunya belum mulai”seru gurunya.”Sekarang,kita akan menggambar bunga”kata gurunya.”Horee”,jawab the little boy yang suka menggambar bunga. Dia mulai membuat bunga dengan warna pink dan kuning. Namun gurunya berkata,”Tunggu,akan aku tunjukkan bagaimana caranya”!. Sang guru menggambar sebuah bunga di papan,berwarna merah dengan batangnya yang berwarna hijau.”Ini dia contoh bunganya,sekarang silahkan menggambar!”pintanya lagi.
The little boy melihat gambar gurunya dan kemudian melihat gambarnya sendiri,dia lebih suka gambarnya dari pada gambar gurunya,namun ia tidak katakan hal ini pada gurunya.Lalu ia meremas-remas kertas gambarnya dan membuat gambar sebagaimana contoh dari gurunya.
Akhirnya The Little Boy dan keluarganya pindah ke daerah lain. Dan pergi ke sekolah baru. Sekolahnya yang baru lebih besar namun tidak memiliki pintu. Suatu pagi,gurunya datang dan berkata” hari ini kita akan membuat sebuah gambar!”. Horee jawab the little boy. Dan dia menunggu instruksi gurunya lebih lanjut.Namun sang guru tidak berkata apa-apa,dia hanya berjalan keliling kelas,dari satu meja ke meja lainnya. Saat dia sampai di meja the little boy,sang guru berkata “tidakkah anda ingin membuat sebuah gambar?. “ya, katathe little boy. “Gambar apa yang akan kita buat? Kata the little boy. “Saya tidak tahu kalau tidak engkau beri contoh!”,kata  the little boy lagi.”Bagaimana cara membuatnya? Rengek sang  little boy. “Dan warnanya bagaimana? “warnanya yang kamu sukai?jawab sang guru. Kemudian gurunya bertanya”Jika semua siswa membuat gambar yang sama,warna yang sama,apakah saya tahu siapa membuat apa,mana punyamu dan mana punya temanmu? Kata gurunya lagi.”Saya tidak tahu” jawab the little boy. Dan anak itu akhirnya membuat bunga berwarna pink dengan batang berwarna kuning dan bunga berwarna biru.sang anak kecil itu menyukai sekolahnya yang baru,meski tidak memiliki daun pintu!”.
Dari dua cerita tersebut diatas, kita menyaksikan sekolah-sekolah yang  telah kehilangan sifat kekanak-kanakannya dewasa ini.  Sekolah bukan lagi menjadi tempat terindah kedua bagi anak,melainkan kadang berubah menjadi penjara yang mematikan kreatifitas yang ada di dalamnya. Anak-anak menjadi robot yang dikendalikan oleh sebuah system kaku bernama kurikulum. Pendidiknya berlomba-lomba mengejar target –target akademik yang kadang menisbihkan sifat kekanakan anak-anak yang butuh bermain, sentuhan,kasih sayang dan gurauan. Akibat dari tidak banyak tersentuhnya sisi-sisi emotional semacam ini sekolah menjadi kering bahkan menjadi tempat tidak nyaman. Konon untuk melihat apakah sekolah itu menyenangkan atau tidak, pengujinya sangat sederhana. Lihatlah respon yang diberikan oleh anak didik saat bel panjang tanda pelajaran selesai berbunyi. Jika bunyi bel itu dibarengi dengan tepuk tangan atau  luapan kegembiraan lainnya, bisa dipastikan kelasnya tidak nyaman alias menjemuhkan,atau pada tahap yang lebih ekstrim kelas yang memenjarakan. Pengalaman seorang kolega berikut di pendidikan Jepang mungkin bisa menginspirasi kita.
Sebentar lagi kita akan menyaksikan euphoria anak-anak tersebut sekeluarnya dari sekolah (kelulusan UNAS). Pawai bermotor, aksi corat-coret, tawuran, bahkan aksi non etis lainnya yang banyak kita temui di seantero Indonesia. Mereka seolah-olah menjadi bringas, tak beraturan dan dalan kasus tertentu tidak beradab Itulah ekspresi kegembiraan mereka setelah terkungkung dalam “penjara “ bernama kelas. Memang ini bukan semata-mata akibat pendidikan di sekolah, namun peran sekolah tidak kecil adanya dalam pembentukan karakter anak tersebut.
Masihkah kita berdiam diri dalam kenyataan pahit ini? Relakah kita jika anak-anak didik kita hanya menjadi penebar terror macam gang motor, penjual sensualitas berbalut video porno. Saya yakin hati kecil kita menangis,melihat semua kebobrokan ini. Kitalah yang diharapkan menjadi pilar utama perubahan itu,kitalah yang menjadi harapan terakhir bangkitnya generasi-generasi emas yang akan membawa kejayaan majapahit dan sriwijaya ke pentas dunia. Kitalah yang memiliki peluang besar untuk mengukir sejarah besar itu kemudian hari. Ya,dari prilaku dan kepengasuhankitalah anak-anak bringas dan tidak berbudaya itu akan kembali kepangkuan pendidikan yang sebenarnya: menumbuhkan kesadaran dan kemuliaan budi pekerti.Semoga kita bisa menjadi contoh yang baik dari generasi yang banyak harinya diisi oleh kegalauan akan karut marutnya bangsa ini. Semoga kita bisa menjadi contoh nyata,saat mereka kehilangan pegangan dan tauladan oleh keganasan prilaku tak bermoral dan korup para pemimpin negeri ini. Dan berbanggalah,karena kitalah yang dinanti perannya untuk melahirkan generasi emas bagi Indonesia yang lebih baik. Bangkitlah guruku,selama mentari terbit di ufuk timur kita selalu tersenyum penuh harapan.




Jumat, 22 Juni 2012

BUKTI KEBOHONGAN


Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia. Itulah Kebohongan orang tua pada anaknya. Apa bukti bahwa mereka suka berbohong pada anaknya?


Cerita bermula ketika masih kecil, sebut saja si Andi, terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, sang Orang Tua sering memberikan porsi nasinya untuk Andi. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk Andi, Orang Tua berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG PERTAMA

Ketika Andi mulai tumbuh dewasa, Orang Tua yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, Orang Tua berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, Orang Tua memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu Andi memakan sup ikan itu, Orang Tua duduk disampingnya dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang Andi makan. Andi melihat Orang Tua seperti itu, hatinya tersentuh juga, lalu menggunakan sendok dan memberikannya kepada Orang Tua’nya. Tetapi sang Orang Tua dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” . KEBOHONGAN Orang Tua YANG KEDUA

Sekarang Andi sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abangnya dan dia, Orang Tua pergi ke koperasi pembuatan kotak korek api untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel merk’nya, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, Andi bangun dari tempat tidurnya, melihat Orang Tua masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Andi berkata :”Ibu/bapak, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu/bapak masih harus kerja.” Orang Tua tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, Orang Tua meminta cuti kerja supaya dapat menemani Andi pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, Orang Tua yang tegar dan gigih menunggu Andi di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Orang Tua dengan segera menyambut Andi dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untuknya. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat Orang Tua yang dibanjiri peluh, Andi segera memberikan gelasnya untuk Orang Tuanya sambil menyuruhnya minum. Orang Tua berkata :”Minumlah nak, aku tidak haus!”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KEEMPAT

Setelah kepergian sang ayah tercinta karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai seorang ayah dan juga ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumah Andi pun membantu ibu baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan keluarga Andi yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibu Andi untuk menikah lagi. Tetapi Orang Tua yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KELIMA

Setelah Andi dan abangnya semua sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Abang Andi yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit” . KEBOHONGAN Orang Tua YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, Andi pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya Andi pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, Andi bermaksud membawa ibunya untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepada Andi “Aku tidak terbiasa”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, Andi yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Andi melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap Andi dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibu Andi sehingga ibunya terlihat lemah dan kurus kering. Andi sambil menatap ibunya sambil berlinang air mata. Hatinya perih, sakit sekali melihat ibunya dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” .KEBOHONGAN Orang Tua YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibu Andi tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kali.

POWER TEACHING


Power Teaching, juga belakang dikenal dengan nama "Whole Brain Teaching"

Power Teaching, jika diindonesiakan bisa berbunyi "pembelajaran dahsyat"! Seberapa dahsyatkah metoda, atau mungkin tepatnya teknik, pembelajaran ini? Sementara frasa "whole brain teaching" -- pembelajaran dengan keseluruhan otak -- mengisyaratkan bahwa pembelajaran ini mengoptimalkan kerja otak peserta didik, otak kiri, otak kanan, otak ... . Dengan bahasa lain, mungkin bisa dikatakan pembelajaran ini melibatkan aspek-aspek diri siswa dengan 'high impact' (berdampak tinggi): kognitif, afektif dan psikomotorik. Seberapa "whole-brain"-kah pembelajaran ini?

Power Teaching diperkenalkan oleh Chris Biffle, seorang dosen di AS, setelah berbulan-bulan berkolaborasi dengan seorang teman dari TK dan seorang lagi dari sekolah menengah di awal tahun 2000-an. Karena metoda ini menggebrak pendekatan konvensional, dalam waktu singkat ribuan guru dan puluhan ribu siswa menikmati pembelajaran dengan metoda unik ini. Unik karena pendekatannya sama sekali berbeda dari yang kita kenal selama ini, bahkan terkesan aneh namun sangat fun. Sebagai metoda, seperti lazimnya metoda yang lain, power teaching ke-"dahsyat"-annya terletak pada pembelajaran yang menekankan penguasaan, atau ketuntasan pemahaman atau kemampuan siswa kemampuan untuk mengungkapkan kembali konsep, penjelasan, rumus yang disampaikan guru.

Dan, yang menarik dari metoda ini, langkah-langkahnya begitu sederhana sehingga praktis bisa kita kuasai dalam hitungan menit. Chris Biffle menawarkan 6 hal untuk mengelola pembelajaran dengan power teaching ini. Kegiatan interaktif yang mewarnai proses pembelajaran ini dikendalikan dengan perintah-perintah dan respon-respon sederhana dengan satu kata bahasa Inggris yang relatif sudah dikenal siswa, maka pembelajaran dengan metoda ini praktis bisa diterapkan untuk hampir semua mata pelajaran. Ungkapan yang harus diperkenalkan ke siswa dan digunakan dalam interaksi kelas adalah: (1) Class - Yes, (2) Micro-lecture, (3) Teach - Okay, (4) Scoreboard, (5) Hands and Eyes, (6) Comprehension Check.

(1) Class - Yes
Untuk meminta perhatian atau menghentikan kegiatan siswa, guru berseru, "Claaaass!" dengan nada suara dan intonasi yang diubah dari waktu ke waktu. Semua siswa akan serempak merespon dengan, "Yeeeesss!" dengan nada dan intonasi meniru cara guru berucap. Kalau guru menggunakan suara robot, siswa pun merespon dengan suara robot. Suara anak kecil, respon juga suara anak kecil. Kalau "Yes" diembat-embat dengan 3 tekanan, siswa pun melakukan hal yang sama.

(2) Micro-lecture
Guru hanya boleh menyampaikan konsep baru, penjelasan, langkah atau rumus tidak lebih dari 30 detik atau setengah menit. Kalau siswa harus bisa mengulang atau mengungkapkan kembali suatu rumus atau kalimat yang baru saja disampaikan guru, maka beberapa detik pun jadilah micro-lecture. Namanya juga "micro-", amat sangat kecil. Kenapa? Karena setiap informasi, penjelasan, konsep, rumus, dsb. yang disampaikan guru harus dapat diungkapkan kembali oleh siswa.


(3) Teach - Okay
Setelah "mengajar" kurang dari atau selama 30 detik, guru meminta siswa mengungkapkan kembali pengetahuan yang baru saja diperoleh. Perintah ini disampaikan dengan berkata, "Teach!" dengan nada tinggi menghentak diikuti gerakan menarik seperti, tepuk tangan 2-2 diteruskan dengan menjulurkan lengan kanan dijulurkan menghentak menyerong kanan ke atas, sementara yang kiri ditarik ke bawah, misalnya. Pada kesempatan lain, sebagai variasi, ucapan "Teach" disuarakan lembut disusul dengan tepuk tangan 2-2 dilanjutkan dengan juluran lengan perlahan ke depan. Siswa lalu merespon dengan berkata, "Okay!" dengan nada suara yang sama, disertai gerakan sama seperti yang dilakukan guru. Setelah itu, anak sebangku berpaling untuk saling berhadapan dan mengutarakan kembali apa saja yang disampaikan guru. Saat menuturkan kembali apa yang dipelajari dari guru, siswa harus menggunakan 'gesture' dan bersemangat dan memastikan bahwa suaranya dapat didengar oleh telinganya sendiri.

(4) Scoreboard
Scoreboard atau "papan nilai" dimaksudkan untuk memberitahu siswa apakah respon siswa memuaskan guru, karena dilakukan serempak dan bersemangat atau sebaliknya. Yang perlu kita lakukan adalah menggambar 2 wajah berbentuk lingkaran, yang satu, "Smiley," menampilkan senyuman, satunya lagi, "Frowny," tampak cemberut. Dua gambar wajah itu dipisahkan oleh garis lurus ke bawah. Apabila respons siswa bagus, guru menuliskan skor satu di bawah "Smiley" kemudian guru mengibaskan tangan ke kelas yang disambut anak dengan ungkapan kegemberian dengan berseru "O yaaaa!" dan sekali tepuk tangan. Jika respon siswa tidak bagus, guru memberi skor satu di bawah "Frowny" dan setelah tangan guru dikibaskan ke arah kelas, siswa meresponnya sedih dengan bertutur, "Ooh," sambil menghapus matanya yang seolah menangis karena kecewa.

(5) Hands and eyes
Perintah bermakna "tangan dan mata" ini ketika diucapkan guru akan direspon siswa dengan ucapan yang sama, "Hands and eyes!" dilanjutkan dengan menyatukan jari-jari kedua tangan lalu meletakkannya di atas daun bangku dengan mata lurus tertuju pada guru. Aba-aba ini dimaksudkan untuk meminta perhatian berkualitas tinggi karena bahan yang akan disampaikan cukup sulit sehingga memerlukan perhatian ekstra. 'Hands and eyes' hanya digunakan ketika guru benar-benar menginginkan 'quality attention'. Jadi, tidak selalu menjadi bagian dari proses pembelajaran dahsyat ini. Di tahap awal perkenalan power teaching, "Hands and eyes" sebaiknya dilewatkan saja.

(6) Comprehension Check -- Cek Pemahaman
Saat siswa mengungkapkan kembali bahan ajar yang baru saja dipelajari, guru perlu mengecek pemahaman siswa dengan cara berjalan keliling kelas mendengarkan apa yang diungkapkan siswa. Ini penting, selain untuk mengetahui seberapa efektif siswa belajar, tapi juga untuk memastikan bahwa siswa tidak sekedar tampak seolah mengungkapkan pemahamannya seperti yang seharusnya, padahal senyatanya sekedar tampak buka mulut untuk mengelabuhi guru.

Power Teaching dapat digunakan untuk pembelajaran dari TK sampai perguruan tinggi. Dalam video yang digunakan Chris Biffle untuk mengenalkan power teaching, audience-nya adalah mahasiswa. Dan, mereka tampak sangat menikmati dan menyukainya. Cukup banyak video praktik power teaching menarik yang dapat kita saksikan lewatwww.youtube.com. Selamat mencoba!



SEKOLAH PARA BINATANG


Alkisah, hewan-hewan memutuskan bahwa mereka harus mendirikan sekolah untuk mengatasi keterbelakangan budaya mereka selama ini. Kurikulumnya: berlari, berenang, memanjat dan terbang. Agar tidak ada perbedaan, maka semua binatang harus mengambil semua mata pelajaran. Bebek pakar dalam berenag. Bahkan lebih baik dari gurunya. Bebek juga dapat nilai bagus pada pelajaran terbang, tapi ia sangat buruk dalam pelajaran berlari. Karena lambat berlari, maka ia harus ikut les tambahan sesudah sekolah usai dan merelakan waktu bermainnya hanya untuk berlatih lari secara ekstra. Bebek yang di paksa berlatih keras sehingga kakinya yang berselaput menjadi pecah – pecah dan membuat kemampuan renangnya menjadi sedang-sedang saja. Tetapi kemampuan yang sedang-sedang saja adalah hal biasa disekolah. Semua hewan tak mempermasalahkan hal itu kecuali si Bebek.
Kancil adalah murid terpandai di kelas berlari. Tapi dia paling stress kalau disuruh berenang. Tupai adalah jagoan memanjat sebelum akhirnya dia frustasi pada pelajaran terbang. Karena gurunya menyuruhnya terbang dari bawah ke atas bukan dari puncak pohon ke ranting dibawahnya. Tupai pegel-pegal seluruh badannya karena latihan yang berlebihan. Akhirnya dia mendapat nilai C untuk pelajaran memanjat yang menjadi keahliannya.
Elang adalah murid yang paling bandel. Dalam pelajaran memanjat dialah yang mampu mengalahkan semua hewan. Tapi hal itu dilakukannya dengan caranya sendiri yaitu terbang.
Pada akhir pelajaran, justru seekor belut abnormal yang menjadi juara kelas. Karena ia mampu berenang dengan cepat, berlari, memanjat dan sedikit terbang.
Sekolah yang didirikan dengan tujuan mulia itu, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang di harapkan. Hal ini karena kurikulumnya dibuat seragam dan harus di patuhi.
Penyeragaman berarti murid dipaksa untuk menyesuaikan diri dalam suatu kondisi yang belum tentu sesuai dengan karakternya. Penyeragaman hanya menimbulkan kesemuan.
Pola integrasi dan interaksi sosial yang baru telah muncul. Teknologi informasi, pola konsumsi dan gaya hidup telah meningkat dan mulai berubah. Generasi baru yang muncul cenderung lebih pintar dan lebih majemuk karakternya akibat asupan nutrisi yang lebih baik. Tapi haruskah semua itu diukur dengan keseragaman yang serba formalitas? Bukankah Tuhan menciptakan manusia berbeda karakter dengan tujuan agar setiap orang tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia.
Pernah ada di angan saya, bagaimana seandainya ada sekolah yang seperti X-Men. Dimana setiap murid yang ada di sekolah itu dibiarkan berkembang sesuai dengan bakat dan karakternya. Storm tak perlu menjadi Wolverin atau bahkan mempelajari keahliannya. Biarlah Storm mengembangkan kemampuan dan bakatnya setinggi-tinggi yang dia mampu. Begitu juga Mysterious, tak perlu mempelajari semua jenis keahlian teman-temannya yang mungkin akan membuatnya stress dan mengurangi kemampuannya dalam bersalin rupa.
Mungkinkah kita merubah kurikulum yang ada sekarang ini??

Sabtu, 16 Juni 2012

TEORI BELAJAR ELABORASI,EKPLORASI DAN KONFIRMASI


Teori Elaborasi, Eksplorasi, dan Konfirmasi

Elaborasi

Teori elaborasi adalah teori mengenai desain pembelajaran dengan dasar argumen bahwa pelajaran harus diorganisasikan dari materi yang sederhana menuju pada harapan yang kompleks dengan mengembangkan pemahaman pada konteks yang lebih bermakna sehingga berkembang menjadi ide-ide yang terintegrasi. Pengertian ini dirumuskan Charles Reigeluth dari Indiana University dan koleganya pada tahun 1970-an. Konsep ini memiliki tiga kata kunci yang fokus pada urutan elaborasi konsep, elaborasi teori, dan penyederhanaan kondisi.

Pembelajaran dimulai dari konsep sederhana dan pekerjaan yang mudah. Bagaimana mengajarkan secara menyeluruh dan mendalam, serta menerapkan prinsip agar menjadi lebih detil. Prinsipnya harus menggunakan topik dengan pendekatan spiral. Sejumlah konsep dan tahapan belajar harus dibagi dalam “episode belajar”. Selanjutnya siswa memilih konsep, prinsip, atau versi pekerjaan yang dielaborasi atau dipelajari.

Pendekatan elaborasi berkembang sejalan dengan tumbuhnya perubahan paradigma pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa sebagai kebutuhan baru dalam menerapkan langkah-langkah pembelajaran. Dari pikiran Reigeluth lahirlah desain yang bertujuan membantu penyeleksian dan pengurutan materi yang dapat meningkatkan pecapaian tujuan. Para pendukung teori ini juga menekankan pentingnya fungsi-fungsi motivator, analogi, ringkasan, dan sintesis yang membantu meningkatkan efektivitas belajar. Teori ini pun memberikan perhatian pada aspek kognitif yang kompleks dan pembelajaran psikomotor. Ide dasarnya adalah siswa perlu mengembangkan makna kontekstual dalam urutan pengetahuan dan keterampilan yang berasimilasi.

Menurut Reigeluth (1999), teori elaborasi mengandung beberapa nilai lebih, seperti di bawah ini.

Terdapat urutan instruksi yang mencakup keseluruhan sehingga memungkinkan untuk meningkatkan motivasi dan kebermaknaan.
Memberi kemungkinan kepada pelajar untuk mengarungi berbagai hal dan memutuskan urutan proses belajar sesuai dengan keinginannya.
Memfasilitasi pelajar dalam mengembangkan proses pembelajaran dengan cepat.
Mengintegrasikan berbagai variabel pendekatan sesuai dengan desain teori.

Teori elaborasi mengajukan tujuh komponen strategi yang utama, (1) urutan elaborasi (2) urutan prasyarat belajar (3) ringkasan (4) sintesis (5) analogi (6) strategi kognitif, dan (7) kontrol terhadap siswa. Komponen terpenting yang melandasi semua itu adalah perhatian.

Semua stratregi itu harus berlandaskan pada materi dalam bentuk konsep, prosedur, dan prinsip. Hal itu terkait erat dengan proses elaborasi yang berkelanjutan, melibatkan siswa dalam pengembangan ide atau keterampilan dalam aplikasi praktis. Strategi ini memungkinkan siswa untuk menambahkan sendiri ide dalam menguatkan pengetahuannya. Contoh yang tepat untuk ini adalah peserta didik yang memiliki daftar contoh konsep atau sifat yang dapat bermanfaat.

Eksplorasi

Eksplorasi adalah upaya awal membangun pengetahuan melalui peningkatan pemahaman atas suatu fenomena (American Dictionary). Strategi yang digunakan memperluas dan memperdalam pengetahuan dengan menerapkan strategi belajar aktif.

Pendekatan pembelajaran yang berkembang saat ini secara empirik telah melahirkan disiplin baru pada proses belajar. Tidak hanya berfokus pada apa yang dapat siswa temukan, namun sampai pada bagaimana cara mengeksplorasi ilmu pengetahuan. Istilah yang populer untuk menggambarkan kegiatan ini ialah “explorative learning”. Konsep ini mengingatkan kita pada pernyataan Lao Tsu, seorang filosof China yang menyatakan “I hear and I forget. I see and I remember. I do and I understand.”

Jaringan komputer pada saat ini telah dikembangkan menjadi media yang efektif sebagai penunjang efektifitas pelaksanaan pembelajaran eksploratif. Salah satu model yang dikembangkan oleh Heimo adalah Architecture of Integrated Information System sebagai model terintegrasi yang menggambarkan kompleksnya proses pembelajaran yang efektif dan interaktif.

Pendekatan belajar yang eksploratif tidak hanya berfokus pada bagaimana mentransfer ilmu pengetahuan, pemahaman, dan interpretasi, namun harus diimbangi dengan peningkatan mutu materi ajar. Informasi tidak hanya disusun oleh guru. Perlu ada keterlibatan siswa untuk memperluas, memperdalam, atau menyusun informasi atas inisiatifnya. Dalam hal ini siswa menyusun dan memvalidasi informasi sebagai input bagi kegiatan belajar (Heimo H. Adelsberger, 2000).

Peta Konsep yang dikembangkan oleh Laurillard (2002) dalam tulisan Heimo menunjukan kompleksitas kegiatan eksplorasi dalam proses pembelajaran yang mengharuskan adanya proses dialog yang (1) interaktif (2) adaptif, interaktif dan reflektif (3) menggambarkan tingkat-tingkat penguasaan pokok bahasan (4) menggambarkan level kegiatan yang berkaitan dengan meningkatkan keterampilan menyelesaikan tugas sehingga memeperoleh pengalaman yang bermakna. Ada pun konsep tersebut dapat disajikan seperti diagram di bawah ini :

Pendekatan eksploratif berkembang sebagai pendekatan pembelajaran dalam bidang lingkungan atau sains. Sylvia Luretta dari Fakultas Pendidikan Queensland misalnya, mengintegrasikan pendekatan ini dengan lima faktor yang menyebabkan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna, yaitu belajar aktif, belajar konstruktif, belajar intens, belajar otentik, dan kolaboratif yang menegaskan pernyataan bahwa pembelajaran eksploratif lebih menekankan pada pengalaman belajar daripada pada materi pelajaran.

Dari pengalaman menggunakan model kooperatif dan kolaboratif dalam praktek pembelajaran pengelolaan kelas ternyata mampu meningkatkan kinerja belajar siswa dalam melakukan langkah-langkah eksploratif.

Model pembelajaran ini dapat dikembangkan melalui bentuk pertanyaan. Seperti yang dikatakan oleh Socrates bahwa pertanyaan yang baik dapat meningkatkan motivasi siswa untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan lebih mendalam.

Eksplorasi merupakan proses kerja dalam memfasilitasi proses belajar siswa dari tidak tahu menjadi tahu. Siswa menghubungkan pikiran yang terdahulu dengan pengalaman belajarnya. Mereka menggambarkan pemahaman yang mendalam untuk memberikan respon yang mendalam juga. Bagaimana membedakan peran masing-masing dalam kegiatan belajar bersama. Mereka melakukan pembagian tugas seperti dalam tugas merekam, mencari informasi melalui internet serta memberikan respon kreatif dalam berdialog.

Di samping itu siswa menindaklanjuti penelusuran informasi dengan membandingkan hasil telaah. Secara kolektif, mereka juga dapat mengembangkan hasil penelusuran informasi dalam bentuk grafik, tabel, diagram serta mempresentasikan gagasan yang dimiliki.

Pelaksanaan kegiatan eksplorasi dapat dilakukan melalui kerja sama dalam kelompok kecil. Bersama teman sekelompoknya siswa menelusuri informasi yang mereka butuhkan, merumuskan masalah dalam kehidupan nyata, berpikir kritis untuk menerapkan ilmu yang dimiliki dalam kehidupan yang nyata dan bermakna.

Melalui kegiatan eksplorasi siswa dapat mengembangkan pengalaman belajar, meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan serta menerapkannya untuk menjawab fenomena yang ada. Siswa juga dapat mengeksploitasi informasi untuk memperoleh manfaat tertentu sebagai produk belajar.

Konfirmasi

Kebenaran ilmu pengetahuan itu relatif. Sesuatu yang saat ini dianggap benar bisa berubah jika kemudian ditemukan fakta baru yang bertentangan dengan konsep tersebut. Oleh karena itu, sikap keilmuan selalu terbuka dalam memperbaiki pengetahuan sebelumnya berdasarkan penemuan terbaru. Sikap berpikir kritis dan terbuka seperti itu telah membangun sikap berpikir yang apriori, yaitu tidak meyakini sepenuhnya yang benar saat ini mutlak benar atau yang salah mutlak salah. Semua dapat berubah.

Cara berpikir seperti itu tercermin dalam istilah mental model yang mendeskripsikan sikap berpikir seseorang dan bagaimana pikirannya berproses dalam kehidupan nyata. Hal tersebut merepresentasikan proses perubahan sebagai bagian dari persepsi intuitif. Mental model itu membantu seseorang dalam mendefinisikan maupun menetapkan pendekatan untuk memecahkan masalah (wikipedia). Dengan sikap berpikir seperti itu siswa dapat mengembangkan, mengembangkan ulang, dan menggugurkan pengetahuannya jika telah menemukan kebenaran yang lain.

Mental model itu juga dapat melahirkan keraguan terhadap informasi yang diperolehnya. Untuk meningkatkan keyakinan akan kebenaran maka siswa dapat difasilitasi dalam mengembangkan model struktur sseperti pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi atau klarifikasi.

Model ini dapat dinyatakan dalam diagram seperti tertuang di bawah ini meliputi enggage, explore, explain, extend, dan berpusat pada pengembangan kemampuan mengevaluasi sebagaimana yang dikembangkan Anthony W. Lorsbach dari Universitas Illinois sebagai berikut

Dalam prakteknya guru meningkatkan kemampuan ini melalui pengembangan materi. Baik mengenai hal apa yang ingin diketahui siswa lebih jauh, seperti apa tingkat pemahaman dan penguasaan yang ingin dikembangkan dan keraguan apa yang melekat dalam pemahaman tersebut.

Sikap keraguan itu perlu dijawab dengan mengkonfirmasikan terhadap unsur-unsur yang dapat meningkatkan kejelasan atas kebenaran suatu informasi. Siswa melakukan uji kesahihan apakah informasi yang dijadikan landasan kesimpulan itu benar-benar kuat.

Penguatan itu sendiri diperoleh melalui kegiatan eksplorasi melalui perluasan pengalaman, elaborasi melalui sharing dan observation, proses dan genaralisasi dan akhirnya siswa menerapkan pembelajaran yang berstandar dengan merujuk pada paradigma kognitifisme. (guru pembaharu)

Amazing Camp