Walaupun sama-sama pergantian tahun namun terdapat perbedaan mencolok anatara Tahun Baru Hijriyah dengan Tahun Baru Masehi. Secara wasilah jelas akan berbeda karena Tahun Baru Hijriyah penanggalannya berdasarkan peredaran bulan, sedangkan Tahun Baru Masehi penangalannya berdasarkan matahari.
Banyak orang yang tidak mengetahui alasan mengapa pergantian tahun masehi dirayakan secara hura-hura sedangkan penyambutan Tahun Baru Hijriyah tanpa hingar bingar dan pesta kembang api dan hura-hura, sedangkan pergantian Tahun Baru Hijriyah diperingati dengan istighosah, dzikir bersama, muhasabah dan tausyiyah atau tabligh akbar.
Pergantian tahun hijriyah digunakan oleh kaum Muslilimin dan Muslimah untuk bermuhasabah merenungi perjalanan hidup sehingga mawas diri dan dapat mengevaluasi diri agar tahun berikutnya bisa lebih baik. Tahun Baru Hijriyah di tetapkan semenjak Rosululloh SAW hijrah dari Makkah ke Madinah karena hidupnya terancam sekaligus sebagai sebuah ujian bagi Kaum Muslimin akan keimanan kepada Alloh SWT dan kesetiaan kepada Rosululloh SAW.
Adapun Tahun Baru Masehi merupakan waktu yang dianggap sebagai bentuk perayaan hari JANUS
dengan mengitari api unggun, meniup terompet, berpesta poya, dan bernyanyi bersama.
Demikianlah perbadaan mendasar bagi ke dua penanggalan yang selama ini diikuti oleh kaum muslimin yang tidak mengerti sejarah permulaan perayaan tahun baru masehi.
Selamat Datang/Wilujeng Sumping
Memory in al-fatah
Album Foto Sdit Al Fatah Slideshow: Nana’s trip from Bekasi, Java, Indonesia to Jakarta was created by TripAdvisor. See another Jakarta slideshow. Take your travel photos and make a slideshow for free.
Kamis, 01 Januari 2015
Kamis, 03 Juli 2014
ANAK CERMIN ORANG TUANYA
Dalam majalah “Family Guide” menjelaskan beberapa
sifat anak yang mencerminkan tentang siapa dan bagaimana sesunguhnya orang
tuanya itu antara lain sebagai berikut:
1.
Jika anakmu BERBOHONG,itu karena engkau MENGHUKUMNYA
terlalu BERAT.
2. Jika anakmu TIDAK PERCAYA DIRI,itu karena engkau TIDAK MEMBERI dia SEMANGAT
3. Jika anakmu KURANG BERBICARA,itu karena engkau TIDAK MENGAJAKNYA BERBICARA
4. Jika anakmu MENCURI,itu karena engkau TIDAK MENGAJARINYA MEMBERI.
5. Jika anakmu PENGECUT,itu karena engkau selalu MEMBELANYA.
6. Jika anakmu TIDAK MENGHARGAI ORANG LAIN,itu karena engkau BERBICARA
TERLALU KERAS KEPADANYA.
TERLALU KERAS KEPADANYA.
7. Jika anakmu MARAH,itu karena engkau KURANG MEMUJINYA.
8. Jika anakmu SUKA BERBICARA PEDAS, itu karena engkau TIDAK BERBAGI DENGANNYA.
9. Jika
anakmu MENGASARI ORANG LAIN,itu karena
engkau SUKA MELAKUKAN KEKERASAN TERHADAPNYA.
10. Jika anakmu LEMAH,itu karena engkau SUKA MENGANCAMNYA.
11. Jika anakmu CEMBURU,itu karena engkau MENELANTARKANNYA.
12. Jika anakmu MENGANGGUMU,itu karena engkau KURANG MENCIUM & MEMELUKNYA
13. Jika anakmu TIDAK MEMATUHIMU,itu karena engkau MENUNTUT TERLALU BANYAK
padanya.
14. Jika anakmu
TERTUTUP,itu karena engkau TERLALU SIBUK.padanya.
Pesan Bapak Buat Anak
Seorang pemuda duduk di hadapan
laptopnya. Login facebook. Pertama kali yang dicek adalah inbox.
Hari ini dia melihat sesuatu yang tidak pernah dia pedulikan selama ini. Ada 2 dua pesan yang selama ini ia abaikan. Pesan pertama, spam. Pesan kedua…..dia membukanya.
Ternyata ada sebuah pesan beberapa bulan yang lalu.
Hari ini dia melihat sesuatu yang tidak pernah dia pedulikan selama ini. Ada 2 dua pesan yang selama ini ia abaikan. Pesan pertama, spam. Pesan kedua…..dia membukanya.
Ternyata ada sebuah pesan beberapa bulan yang lalu.
Diapun mulai membaca isinya:
“Assalamu’alaikum. Ini kali pertama Bapak mencoba menggunakan
facebook. Bapak mencoba menambah kamu sebagai teman sekalipun Bapak tidak
terlalu paham dengan itu. Lalu bapak mencoba mengirim pesan ini kepadamu. Maaf,
Bapak tidak pandai mengetik. Ini pun kawan Bapak yang mengajarkan.
Bapak hanya sekedar ingin mengenang. Bacalah !
Saat kamu kecil dulu, Bapak masih ingat pertama kali kamu bisa
ngomong. Kamu asyik memanggil : Bapak, Bapak, Bapak. Bapak Bahagia sekali
rasanya anak lelaki Bapak sudah bisa me-manggil2 Bapak, sudah bisa me-manggil2
Ibunya”.
Bapak sangat senang bisa berbicara dengan kamu walaupun kamu mungkin
tidak ingat dan tidak paham apa yang Bapak ucapkan ketika umurmu 4 atau 5
tahun. Tapi, percayalah. Bapak dan Ibumu bicara dengan kamu sangat banyak
sekali. Kamulah penghibur kami setiap saat.walaupun hanya dengan mendengar
gelak tawamu.
Saat kamu masuk SD, bapak masih ingat kamu selalu bercerita
dengan Bapak ketika membonceng motor tentang apapun yang kamu lihat di kiri
kananmu dalam perjalanan.
Ayah mana yang tidak gembira melihat anaknya telah mengetahui
banyak hal di luar rumahnya.
Bapak jadi makin bersemangat bekerja keras mencari uang untuk
biaya kamu ke sekolah. Sebab kamu lucu sekali. Menyenangkan. Bapak sangat
mengiginkan kamu menjadi anak yang pandai dan taat beribadah.
Masih ingat jugakah kamu, saat pertama kali kamu punya HP? Diam2
waktu itu Bapak menabung karena kasihan melihatmu belum punya HP sementara
kawan2mu sudah memiliki.
Ketika kamu masuk SMP kamu sudah mulai punya banyak kawan-kawan
baru. Ketika pulang dari sekolah kamu langsung masuk kamar. Mungkin kamu lelah
setelah mengayuh sepeda, begitu pikir Bapak. Kamu keluar kamar hanya pada waktu
makan saja setelah itu masuk lagi, dan keluarnya lagi ketika akan pergi bersama
kawan-kawanmu.
Kamu sudah mulai jarang bercerita dengan Bapak. Tahu2 kamu sudah
mulai melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi lagi. Kamu mencari kami
saat perlu2 saja serta membiarkan kami saat kamu tidak perlu.
Ketika mulai kuliah di luar kotapun sikap kamu sama saja dengan
sebelumnya. Jarang menghubungi kami kecuali disaat mendapatkan kesulitan.
Sewaktu pulang liburanpun kamu sibuk dengan HP kamu, dengan laptop kamu, dengan
internet kamu, dengan dunia kamu.
Bapak bertanya-tanya sendiri dalam hati. Adakah kawan2mu itu
lebih penting dari Bapak dan Ibumu? Adakah Bapak dan Ibumu ini cuma diperlukan
saat nanti kamu mau nikah saja sebagai pemberi restu? Adakah kami ibarat
tabungan kamu saja?
Kamu semakin jarang berbicara dengan Bapak lagi. Kalau pun
bicara, dengan jari-jemari saja lewat sms. Berjumpa tapi tak berkata-kata.
Berbicara tapi seperti tak bersuara. Bertegur cuma waktu hari raya. Tanya
sepatah kata, dijawab sepatah kata. Ditegur, kamu buang muka. Dimarahi, malah
menjadi-jadi.
Malam ini, Bapak sebenarnya rindu sekali pada kamu.
Bukan mau marah atau mengungkit-ungkit masa lalu. Cuma Bapak
sudah merasa terlalu tua. Usia Bapak sudah diatas 60 an. Kekuatan Bapak tidak
sekuat dulu lagi.
Bapak tidak minta banyak…
Kadang-kadang, Bapak cuma mau kamu berada di sisi bapak.
Berbicara tentang hidup kamu. Meluapkan apa saja yang terpendam dalam hati
kamu. Menangis pada Bapak. Mengadu pada Bapak.Bercerita pada Bapak seperti saat
kamu kecil dulu.
Andaipun kamu sudah tidak punya waktu samasekali berbicara
dengan Bapak, jangan sampai kamu tidak punya waktu berbicara dengan Alloh.
Jangan letakkan cintamu pada seseorang didalam hati melebihi cintamu kepada Alloh.
Mungkin kamu mengabaikan Bapak, namun jangan kamu sekali2 mengabaikan Allah.
Jangan letakkan cintamu pada seseorang didalam hati melebihi cintamu kepada Alloh.
Mungkin kamu mengabaikan Bapak, namun jangan kamu sekali2 mengabaikan Allah.
Maafkan Bapak atas segalanya. Maafkan Bapak atas curhat Bapak
ini. Jagalah solat. Jagalah hati. Jagalah iman. ”
Pemuda itu meneteskan air mata, terisak.
Dalam hati terasa perih tidak terkira...................
Bagaimana tidak ?
Sebab tulisan ayahandanya itu dibaca setelah 3 bulan beliau pergi untuk selama-lamanya.
Bagaimana tidak ?
Sebab tulisan ayahandanya itu dibaca setelah 3 bulan beliau pergi untuk selama-lamanya.
Senin, 30 Juni 2014
ILUSTRASI RAMADHAN
Pada suatu hari yang indah dan mempesona di alam fana ini, dimana
seluruh kaum Muslimin wal muslimat sebagai penghuni permukaan dunia sudah pasti
dalam kurun waktu satu tahun tak terkecuali di lintasan udara wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia, akan merasakan kehadiran sebuah pesawat terbang canghih dan
mewah edisi terbaru yang sifatnya limited tentu saja akan segera lepas landas dari Bandara
SYA’BAN.
Pramugari dan pramugara yang ramah dan baik hati dan tidak
sombong tentu akan menyapa para penumpangnya dengan ucapan HASANAH yang ramah dan
tuturkatanya yang lembut.
"Selamat datang di Pesawat RAMADHAN AIR dengan Nomor Penerbangan 1435 H, dengan tujuan Bandara 'IDUL FITRI siap tingal landas, selamat menikmatinya dan semoga berakhir hingga sampai tujuan dengan mendapat predikat MUTTAQIIN”.
"Selamat datang di Pesawat RAMADHAN AIR dengan Nomor Penerbangan 1435 H, dengan tujuan Bandara 'IDUL FITRI siap tingal landas, selamat menikmatinya dan semoga berakhir hingga sampai tujuan dengan mendapat predikat MUTTAQIIN”.
Sesuai dengan peraturan yang tertuang dalam KITAB
SUCI AL QURAN dan SUNNAH RASULULLAH, maka kami akan menyampaikan informasi
penting untuk seluruh penumpang.
Kita akan terbang dalam kurun waktu satu bulan sekitar 29 atau 30
hari di atas permukaan HAUS dan LAPAR serta hal-hal lain yang membatalkannya.
Untuk itu mohon mengenakan Sabuk PUASA dengan benar, tegakkan sandaran SHALAT baik yang wajib maupun yang sunnah, tutup rapat meja DOSA di depan anda, dan bukalah tirai jendela AMAL selebar dan seluas-luasnya.
Pesawat edisi khusus ini dilengkapi 3 pintu anugerah, Pintu
RAHMAT (Pengasih) ada di depan, Pintu MAGHFIRAH (Ampunan) ditengah, dan Pintu
ITQUN MINAN NAR (Bebas Api Neraka) di bagian belakang.
Demi alasan keselamatan kita bersama, harap tidak mengaktifkan berbagai
jenis MAKSIAT baik yang disengaja ataupun yang tidak selama berada selama pesawat
ini mengudara.
Ingat penerbangan ini bebas Asap GHIBAH, RIYA, FUSUQ, dan HASAD
DLL.
Selamat menikmati penerbangan anda.
Rabu, 04 Juni 2014
Manfaat dan Madharatnya Hand Phone Bagi Pelajar
Tentunya jika kondisi ini terjadi, maka
pengaruh HP terhadap prestasi belajar benar-benar mereka
alami. Akibat terlalu memperhatikan HP, maka penjelasan guru diabaikan. Akibatnya, prestasi
mereka-pun merosot. Ini merupakan salah satu akibat dari pengaruh HP pada anak-anak
alami. Akibat terlalu memperhatikan HP, maka penjelasan guru diabaikan. Akibatnya, prestasi
mereka-pun merosot. Ini merupakan salah satu akibat dari pengaruh HP pada anak-anak
2. Menurunkan Konsentrasi
Konsentrasi adalah tingkat
perhatian kita terhadap sesuatu. Dalam konteks belajar, berarti tingkat
perhatian siswa terhadap segala penjelasan dan bimbingan belajar sang guru. Seharusnya, seluruh
perhatian siswa diarahkan pada apa yang sedang mereka pelajari, tetapi seringkali HP menyita
sebagian besar waktu mereka.
perhatian siswa terhadap segala penjelasan dan bimbingan belajar sang guru. Seharusnya, seluruh
perhatian siswa diarahkan pada apa yang sedang mereka pelajari, tetapi seringkali HP menyita
sebagian besar waktu mereka.
3.Malas Belajar
Anak-anak yang sudah
kecanduan HP, maka setiap saat yang dilakukannya hanyalah bermain
HP dan HP. Mereka tidak pernah berpikir pada hal yang lainnya. Bagi mereka, yang terpenting adalah
HP. Jika ke mana-mana tidak ada HP, maka rasanya tidak lengkap, bahkan ada beberapa anak
yang tidak mau melakukan kegiatan karena tidak punya HP.
HP dan HP. Mereka tidak pernah berpikir pada hal yang lainnya. Bagi mereka, yang terpenting adalah
HP. Jika ke mana-mana tidak ada HP, maka rasanya tidak lengkap, bahkan ada beberapa anak
yang tidak mau melakukan kegiatan karena tidak punya HP.
4. Mengganggu Perkembangan
Anak
Dengan canggihnya
fitur-fitur yang tersedia di hand phone (HP) seperti : kamera, permainan
(games) akan mengganggu siswa dalam menerima pelajaran di sekolah? Tidak jarang
mereka disibukkan dengan menerima panggilan,sms, miscall dari teman mereka bahkan dari
keluarga mereka sendiri. Lebih parah lagi ada yang menggunakan HP untuk mencontek (curang)
dalam ulangan. Bermain game saat guru menjelaskan pelajaran dan sebagainya. Kalau hal
tersebut dibiarkan, maka generasi yang kita harapkan akan menjadi budak teknologi.
(games) akan mengganggu siswa dalam menerima pelajaran di sekolah? Tidak jarang
mereka disibukkan dengan menerima panggilan,sms, miscall dari teman mereka bahkan dari
keluarga mereka sendiri. Lebih parah lagi ada yang menggunakan HP untuk mencontek (curang)
dalam ulangan. Bermain game saat guru menjelaskan pelajaran dan sebagainya. Kalau hal
tersebut dibiarkan, maka generasi yang kita harapkan akan menjadi budak teknologi.
5. Efek radiasi
Selain berbagai kontroversi
di seputar dampak negatif penggunaannya,penggunaan HP juga
berakibat buruk terhadap kesehatan, ada baiknya siswa lebih hati-hati dan bijaksana dalam
men ggunakan atau memilih HP, khususnya bagi pelajar anak-anak. Jika memang tidak terlalu
diperlukan, sebaiknya anak-anak jangan dulu diberi
berakibat buruk terhadap kesehatan, ada baiknya siswa lebih hati-hati dan bijaksana dalam
men ggunakan atau memilih HP, khususnya bagi pelajar anak-anak. Jika memang tidak terlalu
diperlukan, sebaiknya anak-anak jangan dulu diberi
6. Sangat berpotensi
mempengaruhi sikap dan perilaku siswa.
Jika tidak ada kontrol dari
guru dan orang tua. HP bisa digunakan untuk menyebarkan gambar-
gambar yang mengandung unsur porno dan sebagainya yang sama sekali tidak layak dilihat
seorang pelajar.
gambar yang mengandung unsur porno dan sebagainya yang sama sekali tidak layak dilihat
seorang pelajar.
7. Pemborosan
Dengan mempunyai HP, maka
pengeluaran kita akan bertambah, apalagi kalau HP hanya
digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat maka hanya akan menjadi pemborosan yang saja.
digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat maka hanya akan menjadi pemborosan yang saja.
8. Meningkatnya video porno
dan kata-kata yang tidak senonoh
Akibat yang sangat
berbahaya oleh siswa adalah penggunaan HP dengan tujuan yang menyimpang
seperti mengisi video porno ke dalam HP dan menggunakan kata-kata yang tidak senonoh. Tak
sedikit pelajar yang ketahuan menyimpan video dan foto yang tidak senonoh di HP mereka. Di
samping itu juga HP digunakan untuk tukar- tukaran jawaban ujian.
seperti mengisi video porno ke dalam HP dan menggunakan kata-kata yang tidak senonoh. Tak
sedikit pelajar yang ketahuan menyimpan video dan foto yang tidak senonoh di HP mereka. Di
samping itu juga HP digunakan untuk tukar- tukaran jawaban ujian.
Kamis, 01 Mei 2014
Refleksi Hardiknas : POTRET PENDIDIKAN BAGAIKAN HIDUP SEGAN MATI TAKMAU
Krisis multi dimensi kini merambah dalam dunia pendidikan
Indonesia. Tampaknya tidaklah keliru apa bila dikatakan pendidikan kita sedang
mengalami mati suri. Bukti konkrit yang dapat dibuktikan dengan munnculnya
kasus-kasus yang sangat mengemparkan bangsa sehingga membuat pendidikan kita
makian terpuruk. Sesunguhnya pendidkan
itu adalah upaya memanusiakan manusia agar hidupnya mulia baik dihadapan
manusia atau dihadapan Ilahi. Pendidikan itu merupakan agen of change bagi
manusia sehingga hidupnya kian bermakna dan bermanfaat bagi dirinya dan orang
lain.
Perubahan yang kini sedang gencar disosialisasikan dengan
cara melakukan perubahan kurikulum tampaknya akan sia-sia, karena hanya
bersifat parsial tidak menyeluruh bahkan menyentuh praktisi pendidikan secara continue.
Sesunguhnya apa yang keliru dengan pendidikan Indonesia ini?
Mengapa Indonesia ini tidak langsung diperbaiki? Sekadar illustrator, munculnya
buku “Sekolah Para Binatang”. Buku ini dapat dianalogikan dengan kondisi yang
sesungguhnya tentang pendidikan Indonesia selama ini. Dalam sekolah ini
diberlakukan kurikulum secara menyeluruh dengan tanpa melihat latar belakang
dari binatang dalam melaksanakan kurikulum yang diterapkan.
Tampaknya kondisi ini tidak akan beranjak apabila tidak ada
pionir yang mendobrak system pendidikan yang tampaknya akut. Dibalik semua ini
ada kondisi yang kontara diktif dengan munculnya sekolah Islam Terpadu ,
sekolah alam, home schooling yang dapat dijadikan alternative untuk meluruskan
tujuan pendidikan untuk memanusiakan manusia. Namun pertanyaan kecil yang
dianggap sepele: “ Benarkah pendidikan semacam itu yang diharapkan bangsa
Indonesia?” atau jangan-jangan ada alternative lain yang lebih baik.
Bagaimana dengan system yang diuswahkan Rosululloh SAW?
Pertanyaannya dapatkan diterapkan di Indonesia? Kalau bias, apa saja yang harus
dipersiapkan dan bagaimana cara menerapkannya? Marilah kita renungkan bersama
saat refleksi HARDIKNAS ini!
Senin, 28 April 2014
BUDAYA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI PARA PENDIDIK DI INDONESIA
Oleh: Prof. Rhenald
Kasali (Guru Besar FE UI)
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru
sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya,
karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi
nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia
baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
...Karangan yang
dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya
mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya
sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
***
Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
***
Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.
Langganan:
Postingan (Atom)




