PERBEDAAN TOPIK,TEMA DAN JUDUL
dalam wacana percakapan. Menurut Howe opik itu merupakan syarat terbentuknya wacana percakapan. Topik berasal dari bahasa Yunani yaitu “Topoi” yang berati tempat dalam tulis menulis,pembicaraan atau sesuatu yang menjadi landasan penulisan.maka dari itu topik merupakan Topic merupakan salah satu unsure yang penting
Tema merupakan amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya atau Dalam karang mengarang, tema juga adalah pokok pikiran yang mendasari karangan yang akan disusun. Dalam tulis menulis, tema adalah pokok bahasan yang akan disusun menjadi tulisan. Tema ini yang akan menentukan arah tulisan atau tujuan dari penulisan artikel itu. Menentukan tema berarti menentukan apa masalah sebenarmya yang akan ditulis atau diuraikan
Judul adalah sebuah nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku,atau kepala berita.Dalam artikel judul sering disebut juga kepala tulisan. Ada yang mendefinisikan Judul adalah lukisan singkat suatu artikel atau disebut juga miniatur isi bahasan. Judul hendaknya dibuat dengan ringkas, padat dan menarik. Judul artikel diusahakan tidak lebih dari lima kata, tetapi cukup menggambarkan isi bahasan.
Syarat-syarat topik
Syarat topik bisa ditinjau dari 2 segi, yaitu topik yang baik bagi penulis dan topik yang baik bagi pembaca.
Bagi penulis, topik yang baik yaitu berbasis pada kompetensi penulisnya yaitu
• Bidang keahlian.
• Bidang studi yang didalami.
• Pengalaman penulis: pengalaman kerja, praktik dilapangan, penelitian, partisipasi dalam suatu kegiatan ilmiah.
• Bidang kerja atau profesi.
• Karakter penulis (baik, cerdas, inovatif, kreatif).
• Temuan yang pernah diteliti.
• Kualifikasi pengalaman: nasional, internasional.
• Kemampuan memenuhi tuntutan masyarakat pembacanya.
• Kemampuan memenuhi target kebutuhan segmen pembacanya, dan
• Temuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan pembacanya.
Sedangkan bagi pembaca, topik itu baik jika layak dibaca. Artinya, topik tersebut dapat mengembangkan kompetensi pembacanya, yaitu sesuai dengan:
• Tuntutan pembaca untuk mencapai target informasi yang diharapkan.
• Upaya pembaca untuk meningkatkan kecerdasan, kompetensi pengembangan akademik dan profesi.
• Ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditekuni pembacanya.
• Pengembangan dan peningkatan karier dan profesinya.
• Upaya mempertajam dan memperhalus rasa kemanusiaan.
• Upaya mempertajam dan memperhalus daya nalarnya.
• Sesuai dengan kebutuhan informasi iptek yang diperlukan, dan sebagainya.
Namun, jika ditinjau secara umum syarat topik yang baik yaitu:
1). Menarik untuk ditulis dan dibaca.
Topik yang menarik bagi penulis akan meningkatkan kegairahan dalam mengembangkan penulisannya, dan bagi pembaca akan mengundang minat untuk membacanya.
2). Dikuasai dengan baik oleh penulis minimal prinsip-prinsip ilmiah.
Untuk menghasilkan tulisan yang baik, penulis harus menguasai teori-teori (data sekunder), data di lapangan (data primer). Selain itu, penulis juga harus menguasai waktu, biaya, metode pembahasan, bahasa yang digunakan, dan bidang ilmu.
Syarat-syarat tema
Berikut ini beberapa syarat tema yaitu :
1)Tema harus menarik perhatian penulis.
2)Tema harus diketahui/dipahami penulis.
3)Tema harus Bermanfaat.
4)Tema yang dipilih harus berada disekitar kita.
5)Tema yang dipilih harus yang menarik.
6)Tema yang dipilih ruang lingkup sempit dan terbatas.
7)Tema yang dipilih memiliki data dan fakta yang obyektif.
8)Tema yang dipilih harus memiliki sumber acuan.
Syarat-syarat judul
ada beberapa Syarat-syarat judul yaitu:
• Harus bebentuk frasa,
• Tanpa ada singkatan atau akronim,
• Awal kata harus huruf kapital kecuali preposisi dan konjungsi,
• Tanpa tanda baca di akhir judul karangan,
• Menarik perhatian,
• Logis,
• Sesuai dengan isi
• Judul harus:.asli,relevan,provakitif,singkat
Cara membatasi topik
Pembatasan sebuah topik mencangkup konsep, variabel, data, lokasi atau lembaga dan waktu pengumpulan data.
Topik yang terlalu luas menghasilkan tulisan yang dangkal, tidak mendalam, dan tidak tuntas. Selain itu, pembahasan menjadi tidak fokus pada masalah utama yang ditulis atau dibaca. Akibatnya, pembahasan menjadi panjang, namun tidak berisi. Sebaliknya, topik yang terlalu sempit menghasilkan tulisan yang tidak (kurang) bermanfaat bagi pembacanya. Selain itu, karangan menjadi sulit dikembangkan, tidak menarik untuk dibahas ataupun dibaca.Maka dari itu, pembahasan topik dilakukan secara cermat, sesuai dengan kemampuan, tenaga, waktu, tempat, dan kelayakan yang dapat terima oleh pembacanya.
Contoh pembatasan topik:
“Upaya mengembangkan kwalitas perawatan yang bermutu bagi pelayanan pasien di Rumah Sakit”.
Jadi, kwalitas perawatan ini dikembangkan terbatas bagi pelayanan pasien di Rumah Sakit
daftar pustaka :
Hs, Widjono. 2008. Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta: Grasindo
Diposkan oleh Gladys di 20:35
Selamat Datang/Wilujeng Sumping
Memory in al-fatah
Album Foto Sdit Al Fatah Slideshow: Nana’s trip from Bekasi, Java, Indonesia to Jakarta was created by TripAdvisor. See another Jakarta slideshow. Take your travel photos and make a slideshow for free.
Rabu, 30 Maret 2011
Minggu, 27 Maret 2011
Bahasa Indonesia Formal dan Non Formal
BAHASA INDONESIA
BERCIRI FORMAL DAN OBJEKTIF
Oleh: Imron Rosidi
Bahasa Indonesia yang digunakan dalam komunikasi ilmiah berciri formal. Hal itu berarti bahwa unsur-unsur bahasa Indonesia yang digunakan dalam bahasa Indonesia keilmuan adalah unsur-unsur bahasa yang berlaku dalam situasi formal atau resmi. Ciri formal itu tampak pada berbagai lapis unsur bahasa, kosa kata, bentukan kata, dan bentukan kalimat. Pada lapis kosa kata dapat ditemukan kata-kata yang berciri formal dan kata-kata yang berciri informal. Bagaimanakah bentuknya?
Kata Berciri Formal Kata Berciri Informal
korps korp
berkata bilang
buat bikin
hanya cuma, cuman
olahraga olah raga
beri kasih
ambles amblas
tidak ndak, enggak
daripada ketimbang
bagi buat
lepas copot
suku cadang onderdil
Ciri formal juga ditampakkan pada unsur bentukan kata. Bentukan kata tertentu menandai ciri formal. sementara bentukan kata yang lain menandai ciri informal sebagaimana tampak pada contoh-contoh berikut
Bentukan Kata Bentukan Kata
Berciri Formal Berciri Informal
bercerita cerita
berdagang dagang
bersedih sedih
bemyanyi nyanyi
ditemukan diketemukan
berpindah pindah
perajin pengrajin
mengelola ngelola
membantah mbantah
mendapatkan dapat
mencuci nyuci
melarang ngelarang
tertabrak ketabrak
terjatuh jatuh
terbentur kebentur
bertabrakan tabrakan
Contoh-contob tersebut menampakkan dua macam ciri bentukan kata berciri informal. Ciri pertama adalah tidak adanya unsur fomatif (afiks). Ciri kedua adalah tidak sempurnanya afiks pada kata bentukan. Ciri ketiga adalah hadirnya unsur formatif yang berasal dari bahasa donor (bahasa daerah)
Setelah orientasi bahasa donor beralih dari bahasa Belanda ke bahasa lnggris, bentukan kata dengan afiks -ir merupakan bentukan berciri informal, sedangkan bentukan dengan aifiks -isasi merupakan bentukan berciri formal. Perhalikan contoh-contoh berikut!
Bentukan Berciri Formal Bentukan Berciri Informal
legalisasi legalisir
lokalisasi lokalisir
Organisasi organisir
realisasi realisir
Kalimat yang berciri formal ditandai oleh beberapa ciri. Ciri pertama adalah kelengkapan unsur wajib sehingga memenuhi kelengkapan isi proposisi. Kalimat (1) berikut memenuhi persyaratan kelengkapan, sedangkan kalimat (2) tidak.
(1) Mocliono (l989) menyatakan bahwa bahasa ilmiah itu lugas dan eksak serta menghindari kesamaran dan ketaksaan dalam pengungkapan.
(2) Menurut Moeliono (1989) menyatakan bahwa bahasa ilmiah lugas I dan eksak serta menghindari kesamaran dan ketaksaan dalam pengungkapan.
Kalimat fragmentaris sebagaimana telah diuraikan di depan merupakan kalimat yang tidak memenuhi persyaratan kelengkapan unsur wajib.
Ciri kedua adalah ketepatan penggunaan kata fungsi atau kata tugas, yaitu kata yang berfungsi atau bertugas menandai fungsi dan hubungan unsur kalimat. Kata fungsi pada contoh (1) s.d. (5) digunakan secara tepat, sedangkan pada contoh (6) s.d. (10) digunakan secara tidak tepat.
(1) Setiap perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian kepada masyarakat
(2) Penggunaan urea tablet ternyata lebih hemat daripada urea tabur
(3) Bagi petani daerah ini, saluran irigasi merupakan prasarana pertanian yang sangat berarti.
(4) Di lembaga tempat mahasiswa dididik tersedia fasilitas yang cukup untuk meningkatkan prestasi mahasiswa
(5) Gedung-gedung yang akan direnovasi masih digunakan untuk kegiatan akademik
(6) Setiap perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian pada masyarakat
(7) Penggunaan urea tablet ternyata lebih hemat dari urea tabur
(8) Buat petani daerah ini, saluran irigasi merupakan prasarana pertanian yang sangat berarti.
(9) Di lembaga di mana mahasiswa dididik tersedia fasilitas guna meningkatkan prestasi mahasiswa.
(10) Gedung-gedung yang mana akan direnovasi masih digunakan untuk kegiatan akademik.
Ciri ketiga adalah isinya yang mantiki. Kalimat yang berciri formal berfungsi sebagai alat pengungkap penalaran. Kalimat yang mampu berfungsi sebagai alat pengungkap penalaran itu disebut kalimat bernalar. Berbeda dengan kalimat (1), kalimat (2) berikut telah mengungkapkan penalaran yang benar.
(1) Kedudukan pengajaran berbicara tidak sama dengan pokok bahasan lain, yaitu seperti pada membaca, kosa kata, struktur, pragmatik, maupun apresiasi bahasa dan sastra lndonesia.
(2) Kedudukan pengajaran berbicara tidak sama dengan kedudukan pengajaran yang lain: membaca, kosa kata, struktur, pragmatik, dan apresiasi bahasa dan sastra Indonesia.
Ciri keempat adalah tampilan esei formal. Ciri itu menuntut pengungkapan gagasan secara utuh dalam bentuk kalimat. Potongan-potongan gagasan dalam kalimat diintegrasikan secara langsung dalam kalimat Kalimat contoh (1) merupakan kalimat tampilan esei nonformal, sedangkan kalimat contoh (2) merupakan kalimat tampilan esei formal.
(1) Dongeng berdasarkan isinya dapat dibedakan:
-fabel
-legende
-mite
-sage
-penggeli hati.
(2) Dongeng berdasarkan isinya dapat dibedakan atas lima kategori, yakni fabel, legende, mite, sage, dan penggeli hati.
Tampilan esei formal tidak hanya ditampakkan pada tataan unsur-unsur kalimat, tetapi juga ditampakkan pada penempatan kalimat dalam konteks kalimat-kalimat yang lain dalam rangka membentuk teks. Tampilan kalimat pada (1) bukan tampilan esei formal, sedangkan tampilan kalimat pada (2) adalah tampilan esei formal.
(1) Dongeng berdasarkan isinya dapat dibedakan atas label, legende, mite, sage, dan penggeli hati.
Fabel adalah cerita tentang binatang yang dapat berkata-kata dan berpikir seperti manusia
Legende adalah cerita yang berhubungan dengan keajaiban alam.
Mite adalah cerita tentang dewa-dewi atau cerita yang berhubungan dengan kepercayaan.
Sage adalah cerita yang berisi kiasan atau ibarat yang di dalamnya terkandung ajaran hidup
Penggeli hati adalah cerita yang mengandung kelucuan-kelucuan atau perbuatan yang menggelikan.
(2) Dongeng berdasarkan isinya dapat dibedakan atas lima kategori, yakni fabel, legende. mite, sage, dan penggeli hati. Fabel adalah cerita tentang binatang yang dapat berkata- kata dan berpikir seperti manusia. Legenda adalah cerita yang berhubungan dengan keajaiban alam. Mite adalah cerita tentang dewa-dewi atau cerita yang berhubungan dengan kepercayaan. Sage adalah cerita yang berisi kiasan atau ibarat yang di dalamnya terkandung ajaran hidup. Penggeli hati adalah cerita yang mengandung kelucuan-kelucuan atau perbuatan yang menggelikan.
Bahasa Indonesia keilmuan merupakan alat pengungkap gagasan yang objektif. Sejalan dengan fungsinya itu, bahasa Indonesia keilmuan bersifat objektif Demi sifatnya yang objektif itu pula bahasa Indonesia keilmuan menggunakan gagasan sebagai pangkal tolak agar sudut pengungkapan secara dominan bertolak dari perihal (objek) yang sedang dibicarakan. Pengungkapan demikian itu menghasilkan paparan yang objektif.
Terwujudnya ciri objektif bahasa Indonesia keilmuan tidak cukup dengan hanya menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak. Ciri objektif itu dapat diwujudkan dengan penggunaan kata dan struktur. Kata-kata yang menunjukkan ciri subjektif/emosional tidak digunakan. Hadirnya kata alangkah dan kiranya pada contoh (1) dan (2) berikut telah menimbulkan ciri subjektif/emosional. Ciri subjektif itu tidak ada pada contoh (3) dan (4).
(1) Contoh-contoh itu telah memberikan bukti alangkah besarnya peranan orangtua dalam pembentukan kepribadian anak.
(2) Dari uraian di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa pengajaran berbicara di sekolah dasar tidak terpancang pada salah satu metode.
(3) Contoh-contoh itu telah memberikan bukti besarnya peranan orang tua dalam pembentukan kepribadian anak.
(4) Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengajaran berbicara di sekolah dasar tidak terpancang pada salah satu metode.
Kata-kata yang menunjukkan sikap ekstrem, seperti harus, wajib. pasti, dapat memberikan kesan emosional. Karena itu, penggunaan kata-kata yang menunjukkan sikap ekstrem itu perlu dihindairi. Contoh (1) dan (2) berikut masing-masing berciri subjektif/emosional dan objektif/rasional.
(1) Di antara etika yang harus ditanamkan kepada anak adalah mengambil makan dan minum dengan memakai tangan kanan, membaca basmalah untuk mamulai pekerjaan yang baik dan alhamdulillah untuk mengakhiri pekerjaan yang baik pula.
(2) Di antara etika yang ditanamkan kepada anak adalah mengambil makan dan minum dengan memakai tangan kanan, membaca basmalah untuk memulai pekerjaan yang baik dan alhamdulillah untuk mengakhiri pekerjaan yang baik pula.
BERCIRI FORMAL DAN OBJEKTIF
Oleh: Imron Rosidi
Bahasa Indonesia yang digunakan dalam komunikasi ilmiah berciri formal. Hal itu berarti bahwa unsur-unsur bahasa Indonesia yang digunakan dalam bahasa Indonesia keilmuan adalah unsur-unsur bahasa yang berlaku dalam situasi formal atau resmi. Ciri formal itu tampak pada berbagai lapis unsur bahasa, kosa kata, bentukan kata, dan bentukan kalimat. Pada lapis kosa kata dapat ditemukan kata-kata yang berciri formal dan kata-kata yang berciri informal. Bagaimanakah bentuknya?
Kata Berciri Formal Kata Berciri Informal
korps korp
berkata bilang
buat bikin
hanya cuma, cuman
olahraga olah raga
beri kasih
ambles amblas
tidak ndak, enggak
daripada ketimbang
bagi buat
lepas copot
suku cadang onderdil
Ciri formal juga ditampakkan pada unsur bentukan kata. Bentukan kata tertentu menandai ciri formal. sementara bentukan kata yang lain menandai ciri informal sebagaimana tampak pada contoh-contoh berikut
Bentukan Kata Bentukan Kata
Berciri Formal Berciri Informal
bercerita cerita
berdagang dagang
bersedih sedih
bemyanyi nyanyi
ditemukan diketemukan
berpindah pindah
perajin pengrajin
mengelola ngelola
membantah mbantah
mendapatkan dapat
mencuci nyuci
melarang ngelarang
tertabrak ketabrak
terjatuh jatuh
terbentur kebentur
bertabrakan tabrakan
Contoh-contob tersebut menampakkan dua macam ciri bentukan kata berciri informal. Ciri pertama adalah tidak adanya unsur fomatif (afiks). Ciri kedua adalah tidak sempurnanya afiks pada kata bentukan. Ciri ketiga adalah hadirnya unsur formatif yang berasal dari bahasa donor (bahasa daerah)
Setelah orientasi bahasa donor beralih dari bahasa Belanda ke bahasa lnggris, bentukan kata dengan afiks -ir merupakan bentukan berciri informal, sedangkan bentukan dengan aifiks -isasi merupakan bentukan berciri formal. Perhalikan contoh-contoh berikut!
Bentukan Berciri Formal Bentukan Berciri Informal
legalisasi legalisir
lokalisasi lokalisir
Organisasi organisir
realisasi realisir
Kalimat yang berciri formal ditandai oleh beberapa ciri. Ciri pertama adalah kelengkapan unsur wajib sehingga memenuhi kelengkapan isi proposisi. Kalimat (1) berikut memenuhi persyaratan kelengkapan, sedangkan kalimat (2) tidak.
(1) Mocliono (l989) menyatakan bahwa bahasa ilmiah itu lugas dan eksak serta menghindari kesamaran dan ketaksaan dalam pengungkapan.
(2) Menurut Moeliono (1989) menyatakan bahwa bahasa ilmiah lugas I dan eksak serta menghindari kesamaran dan ketaksaan dalam pengungkapan.
Kalimat fragmentaris sebagaimana telah diuraikan di depan merupakan kalimat yang tidak memenuhi persyaratan kelengkapan unsur wajib.
Ciri kedua adalah ketepatan penggunaan kata fungsi atau kata tugas, yaitu kata yang berfungsi atau bertugas menandai fungsi dan hubungan unsur kalimat. Kata fungsi pada contoh (1) s.d. (5) digunakan secara tepat, sedangkan pada contoh (6) s.d. (10) digunakan secara tidak tepat.
(1) Setiap perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian kepada masyarakat
(2) Penggunaan urea tablet ternyata lebih hemat daripada urea tabur
(3) Bagi petani daerah ini, saluran irigasi merupakan prasarana pertanian yang sangat berarti.
(4) Di lembaga tempat mahasiswa dididik tersedia fasilitas yang cukup untuk meningkatkan prestasi mahasiswa
(5) Gedung-gedung yang akan direnovasi masih digunakan untuk kegiatan akademik
(6) Setiap perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian pada masyarakat
(7) Penggunaan urea tablet ternyata lebih hemat dari urea tabur
(8) Buat petani daerah ini, saluran irigasi merupakan prasarana pertanian yang sangat berarti.
(9) Di lembaga di mana mahasiswa dididik tersedia fasilitas guna meningkatkan prestasi mahasiswa.
(10) Gedung-gedung yang mana akan direnovasi masih digunakan untuk kegiatan akademik.
Ciri ketiga adalah isinya yang mantiki. Kalimat yang berciri formal berfungsi sebagai alat pengungkap penalaran. Kalimat yang mampu berfungsi sebagai alat pengungkap penalaran itu disebut kalimat bernalar. Berbeda dengan kalimat (1), kalimat (2) berikut telah mengungkapkan penalaran yang benar.
(1) Kedudukan pengajaran berbicara tidak sama dengan pokok bahasan lain, yaitu seperti pada membaca, kosa kata, struktur, pragmatik, maupun apresiasi bahasa dan sastra lndonesia.
(2) Kedudukan pengajaran berbicara tidak sama dengan kedudukan pengajaran yang lain: membaca, kosa kata, struktur, pragmatik, dan apresiasi bahasa dan sastra Indonesia.
Ciri keempat adalah tampilan esei formal. Ciri itu menuntut pengungkapan gagasan secara utuh dalam bentuk kalimat. Potongan-potongan gagasan dalam kalimat diintegrasikan secara langsung dalam kalimat Kalimat contoh (1) merupakan kalimat tampilan esei nonformal, sedangkan kalimat contoh (2) merupakan kalimat tampilan esei formal.
(1) Dongeng berdasarkan isinya dapat dibedakan:
-fabel
-legende
-mite
-sage
-penggeli hati.
(2) Dongeng berdasarkan isinya dapat dibedakan atas lima kategori, yakni fabel, legende, mite, sage, dan penggeli hati.
Tampilan esei formal tidak hanya ditampakkan pada tataan unsur-unsur kalimat, tetapi juga ditampakkan pada penempatan kalimat dalam konteks kalimat-kalimat yang lain dalam rangka membentuk teks. Tampilan kalimat pada (1) bukan tampilan esei formal, sedangkan tampilan kalimat pada (2) adalah tampilan esei formal.
(1) Dongeng berdasarkan isinya dapat dibedakan atas label, legende, mite, sage, dan penggeli hati.
Fabel adalah cerita tentang binatang yang dapat berkata-kata dan berpikir seperti manusia
Legende adalah cerita yang berhubungan dengan keajaiban alam.
Mite adalah cerita tentang dewa-dewi atau cerita yang berhubungan dengan kepercayaan.
Sage adalah cerita yang berisi kiasan atau ibarat yang di dalamnya terkandung ajaran hidup
Penggeli hati adalah cerita yang mengandung kelucuan-kelucuan atau perbuatan yang menggelikan.
(2) Dongeng berdasarkan isinya dapat dibedakan atas lima kategori, yakni fabel, legende. mite, sage, dan penggeli hati. Fabel adalah cerita tentang binatang yang dapat berkata- kata dan berpikir seperti manusia. Legenda adalah cerita yang berhubungan dengan keajaiban alam. Mite adalah cerita tentang dewa-dewi atau cerita yang berhubungan dengan kepercayaan. Sage adalah cerita yang berisi kiasan atau ibarat yang di dalamnya terkandung ajaran hidup. Penggeli hati adalah cerita yang mengandung kelucuan-kelucuan atau perbuatan yang menggelikan.
Bahasa Indonesia keilmuan merupakan alat pengungkap gagasan yang objektif. Sejalan dengan fungsinya itu, bahasa Indonesia keilmuan bersifat objektif Demi sifatnya yang objektif itu pula bahasa Indonesia keilmuan menggunakan gagasan sebagai pangkal tolak agar sudut pengungkapan secara dominan bertolak dari perihal (objek) yang sedang dibicarakan. Pengungkapan demikian itu menghasilkan paparan yang objektif.
Terwujudnya ciri objektif bahasa Indonesia keilmuan tidak cukup dengan hanya menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak. Ciri objektif itu dapat diwujudkan dengan penggunaan kata dan struktur. Kata-kata yang menunjukkan ciri subjektif/emosional tidak digunakan. Hadirnya kata alangkah dan kiranya pada contoh (1) dan (2) berikut telah menimbulkan ciri subjektif/emosional. Ciri subjektif itu tidak ada pada contoh (3) dan (4).
(1) Contoh-contoh itu telah memberikan bukti alangkah besarnya peranan orangtua dalam pembentukan kepribadian anak.
(2) Dari uraian di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa pengajaran berbicara di sekolah dasar tidak terpancang pada salah satu metode.
(3) Contoh-contoh itu telah memberikan bukti besarnya peranan orang tua dalam pembentukan kepribadian anak.
(4) Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengajaran berbicara di sekolah dasar tidak terpancang pada salah satu metode.
Kata-kata yang menunjukkan sikap ekstrem, seperti harus, wajib. pasti, dapat memberikan kesan emosional. Karena itu, penggunaan kata-kata yang menunjukkan sikap ekstrem itu perlu dihindairi. Contoh (1) dan (2) berikut masing-masing berciri subjektif/emosional dan objektif/rasional.
(1) Di antara etika yang harus ditanamkan kepada anak adalah mengambil makan dan minum dengan memakai tangan kanan, membaca basmalah untuk mamulai pekerjaan yang baik dan alhamdulillah untuk mengakhiri pekerjaan yang baik pula.
(2) Di antara etika yang ditanamkan kepada anak adalah mengambil makan dan minum dengan memakai tangan kanan, membaca basmalah untuk memulai pekerjaan yang baik dan alhamdulillah untuk mengakhiri pekerjaan yang baik pula.
Minggu, 20 Maret 2011
Penggunaan Tanda Baca
Tanda Titik (.)
Tanda titik digunakan untuk :
a. mengakhiri kalimat, yang bukan pertanyaan atau seruan.
Con : Adik shalat Magrib di masjid.
b. Menggakhiri nama orang yang dising kat. Con : R.A. Kartini
d. Mengakhiri singkatan
Con : Yth., dll., a.n.
d. memisahkan angka jam dan menit.
Con : pukul 04.30 WIB
e memisahkan bilangan yang menunju kan jumlah. Con : Lihat halaman 30.
f. Tidak dipakai dibelakang alamat. Con : Yth. Bapak Nana R. Hidayat
Jalan Karimun Jawa 20 No. 1
Aren Jaya - Bekasi Timur
Tanda Koma (,)
Tanda Koma digunakan untuk :
a. Memisahkan unsur-unsur dalam suatu perincian. Con : Ibu membeli baju gamis, sajadah, dan mukena
b. Memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Con : Ibu bertanya, “Berapa harga gamis itu?”
c. Memisahkan tempat dan tanggal yang ditulis berurutan. Con : Subang, 16 Juli 2008.
d. Memisahkan nama orang dan gelar. Con : Utami Siswanti, S.T.
e. Memisahkan rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Con : Rp 10.000,00
f. Memisahkan kalimat setara yang didahului dengna kata pertentanga, Con : Hilmy anak pintar, tetapi sombong.
g. Memisahkan anak kalimat dengan induk kalimat. Con : Jika saya ber puasa, Ibu memberikan hadiah buku.
Tanda titik digunakan untuk :
a. mengakhiri kalimat, yang bukan pertanyaan atau seruan.
Con : Adik shalat Magrib di masjid.
b. Menggakhiri nama orang yang dising kat. Con : R.A. Kartini
d. Mengakhiri singkatan
Con : Yth., dll., a.n.
d. memisahkan angka jam dan menit.
Con : pukul 04.30 WIB
e memisahkan bilangan yang menunju kan jumlah. Con : Lihat halaman 30.
f. Tidak dipakai dibelakang alamat. Con : Yth. Bapak Nana R. Hidayat
Jalan Karimun Jawa 20 No. 1
Aren Jaya - Bekasi Timur
Tanda Koma (,)
Tanda Koma digunakan untuk :
a. Memisahkan unsur-unsur dalam suatu perincian. Con : Ibu membeli baju gamis, sajadah, dan mukena
b. Memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Con : Ibu bertanya, “Berapa harga gamis itu?”
c. Memisahkan tempat dan tanggal yang ditulis berurutan. Con : Subang, 16 Juli 2008.
d. Memisahkan nama orang dan gelar. Con : Utami Siswanti, S.T.
e. Memisahkan rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Con : Rp 10.000,00
f. Memisahkan kalimat setara yang didahului dengna kata pertentanga, Con : Hilmy anak pintar, tetapi sombong.
g. Memisahkan anak kalimat dengan induk kalimat. Con : Jika saya ber puasa, Ibu memberikan hadiah buku.
Penulisan Huruf Kapital
Huruf capital digunakan sbb :
Huruf pertama pada awal kalimat.
Contoh : Aku pergi ke sekolah.
Huruf pertama pada petikan langsung.
Contoh : “ Tutup pintu itu!”perintah Nana.
Huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Contoh : Anna Satriavi
Huruf pertama nama gelar, kehormatan,keturunan, keagamaan, jabatan, dan pangkat yang diikuti nama orang.
Contoh : Haji Abdurrahman
Huruf pertama unsur nama gelar, pangkat dan sapaan.
Contoh : Dr. Syarif Hidayat
Huruf pertama nama tempat atau geografi.
Contoh : Desa Sirap
Huruf pertama nama suku bangsa, bangsa, dan bahasa.
Contoh : bahasa Sunda
Huruf pertama nama hari, bulan, tahun, hari raya, peristiwa bersejarah.
Contoh : bulan Ramadhan
Huruf pertama unsur nama Negara, lembaga pemerintah, dokumen resmi Negara.
Contoh : Dewan Perwakilan Rakyat
Huruf pertama nama buku, majalaj, surat kabar.
Contoh : Ayah membaca surat kabar harian Republika.
Huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang dipakai penyapaan.
Contoh : Liburan kemarin kami diajak Kakek ke daerah pegunungan.
Huruf pertama dalam ungkapan keagamaan, kitab suci, dan nama Tuhan Contoh : Agama Islam
Huruf pertama pada awal kalimat.
Contoh : Aku pergi ke sekolah.
Huruf pertama pada petikan langsung.
Contoh : “ Tutup pintu itu!”perintah Nana.
Huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Contoh : Anna Satriavi
Huruf pertama nama gelar, kehormatan,keturunan, keagamaan, jabatan, dan pangkat yang diikuti nama orang.
Contoh : Haji Abdurrahman
Huruf pertama unsur nama gelar, pangkat dan sapaan.
Contoh : Dr. Syarif Hidayat
Huruf pertama nama tempat atau geografi.
Contoh : Desa Sirap
Huruf pertama nama suku bangsa, bangsa, dan bahasa.
Contoh : bahasa Sunda
Huruf pertama nama hari, bulan, tahun, hari raya, peristiwa bersejarah.
Contoh : bulan Ramadhan
Huruf pertama unsur nama Negara, lembaga pemerintah, dokumen resmi Negara.
Contoh : Dewan Perwakilan Rakyat
Huruf pertama nama buku, majalaj, surat kabar.
Contoh : Ayah membaca surat kabar harian Republika.
Huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang dipakai penyapaan.
Contoh : Liburan kemarin kami diajak Kakek ke daerah pegunungan.
Huruf pertama dalam ungkapan keagamaan, kitab suci, dan nama Tuhan Contoh : Agama Islam
Karya Sastra
Prosa Lama :
1. Legenda adalah dongeng yang isinya dikaitkan dengan kejadian alam. Contohnya : Sangkuriang. Asal usul Danau Toba. Dll.
2. Mitos adalah dongeng tentang dewa-dewi. Contoh : Nyi Roro Kidul.
3. Fabel adalah dongeng tentang binatang. Contoh Si Kancil dan Buaya.
4. Sage adalah dongeng yang mengandung unsur sejarah. Contoh : Berdirinya Kota Mojopahit.
Prosa baru :
Novel adalah prosa yang menceritakan kehidupan seorang tokoh yang mengakibatkan perubahan nasib. Con : Harry Potter : JK Rowling.
Cerpen adalah prosa yang menceritakan tokoh dalam satu sisi. Con : Robohnya Surau kami.
1. Legenda adalah dongeng yang isinya dikaitkan dengan kejadian alam. Contohnya : Sangkuriang. Asal usul Danau Toba. Dll.
2. Mitos adalah dongeng tentang dewa-dewi. Contoh : Nyi Roro Kidul.
3. Fabel adalah dongeng tentang binatang. Contoh Si Kancil dan Buaya.
4. Sage adalah dongeng yang mengandung unsur sejarah. Contoh : Berdirinya Kota Mojopahit.
Prosa baru :
Novel adalah prosa yang menceritakan kehidupan seorang tokoh yang mengakibatkan perubahan nasib. Con : Harry Potter : JK Rowling.
Cerpen adalah prosa yang menceritakan tokoh dalam satu sisi. Con : Robohnya Surau kami.
Jenis-jenis Kata
kata baku dan tidak baku
Con : apotek (baku)
apotik (tdk baku)
Urutan kata sesuai alphabet. Con : Ayam, Bebek, Cicak, Domba ….Zebra
Kata Depan (preposisi)
Contoh : di Bekasi, ke sekolah, dari masjid
Kata Ganti . Con : Saya, kamu, kalian, dia, mereka, kami dll
Kata Hubung
Con : sebelum, sesudah, ketika, jika, apabila, andaikan, karena, meskipun, walaupun.
Kata Ulang
anak-anak, lauk-pauk, mobil-mobilan.
Kata Serapan
complex = komplek
Makna Kata
Sinonim (persamaan kata)
Antonim (lawan kata)
Bentuk Kata
a. homonim
b. homofon
c. homograf
Singkatan
Akronim (kepanjangan)
Majas
Con : apotek (baku)
apotik (tdk baku)
Urutan kata sesuai alphabet. Con : Ayam, Bebek, Cicak, Domba ….Zebra
Kata Depan (preposisi)
Contoh : di Bekasi, ke sekolah, dari masjid
Kata Ganti . Con : Saya, kamu, kalian, dia, mereka, kami dll
Kata Hubung
Con : sebelum, sesudah, ketika, jika, apabila, andaikan, karena, meskipun, walaupun.
Kata Ulang
anak-anak, lauk-pauk, mobil-mobilan.
Kata Serapan
complex = komplek
Makna Kata
Sinonim (persamaan kata)
Antonim (lawan kata)
Bentuk Kata
a. homonim
b. homofon
c. homograf
Singkatan
Akronim (kepanjangan)
Majas
Klausa Perluasan
Klausa Perluasan
Contoh kalimat Kompleks
Kalimat Sederhana :
Baharudin Lopa telah wafat di Mekah.
Baharudin Lopa Kepala Jaksa Agung pada masa Pemerintahan Gusdur telah wafat di Tanah Suci Mekah.
Baharudin Lopa, seorang pengacara senior, telah wafat di Kota Mekah tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Baharudin Lopa, seorang putra Makasar itu, telah wafat di kota Mekah tempat orang Islam naik haji.
Contoh kalimat Kompleks
Kalimat Sederhana :
Baharudin Lopa telah wafat di Mekah.
Baharudin Lopa Kepala Jaksa Agung pada masa Pemerintahan Gusdur telah wafat di Tanah Suci Mekah.
Baharudin Lopa, seorang pengacara senior, telah wafat di Kota Mekah tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Baharudin Lopa, seorang putra Makasar itu, telah wafat di kota Mekah tempat orang Islam naik haji.
Langganan:
Postingan (Atom)